Laporan Kebencanaan Geologi 11 Agustus 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Jumat, 11 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati hembusan asap putih tebal tekanan lemah sampai sedang, tinggi 500-1000 m. Angin bertiup ke arah Tenggara dan Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi letusan sebanyak 5 kali, kolom abu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 700-2000 m dari puncak. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Erupsi disertai guguran lava meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 500-2300 m dan tidak diikuti awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 10 Agustus 2017 Pukul 23:13 WIB, terkait letusan dengan tinggi kolom abu 1000 dari puncak atau 3460 m dari muka laut. Condong ke arah Barat.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Secara visual gunungapi sering berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan lemah sampai sedang, tinggi maksimal 800 m condong ke  Barat. Letusan  terjadi sebanyak 108 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 10 Agustus 2017 pukul 16:36 WIT. Tinggi kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual Ibu tampak cerah. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong ke arah Timur dan Selatan.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
Tanggal 10 Agustus 2017 dilaporkan tidak ada kejadian gerakan tanah / tanah longsor
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi
Gempa Bumi di Perairan Barat Daya Lebak, Banten .
Informasi Gempa Bumi;
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 10 Agustus 2017, pukul 12:57:19 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 103.88° BT dan 8.16° LS, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 55 km, berjarak 317 km barat daya Lebak, Banten. Berdasarkan GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 103.89° BT dan 8.13° LS, dengan magnitudo 5.0 pada kedalaman 10 km. Menurut The United States Geological Survey (USGS), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 103.967° BT dan 8.166° LS, dengan magnitudo 5.0 pada kedalaman 10 km.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:
Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di Perairan Barat Daya Lebak, Banten. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu pesisir Selatan Banten, yang dominan disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter (endapan pantai dan endapan sungai) dan sebagiannya berumur Tersier hingga Pra-Tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi:
Gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise.
Dampak gempa bumi:
Pusat gempa bumi jauh dari daratan dan berkedalaman dangkal, jadi kemungkinan tidak dirasakan oleh masyarakat di wilayah Indonesia. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, walaupun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan dan korban yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak sering berkabut. Kepulan asap putih tebal teramati mencapai ketinggian 500-1000 m, condong ditiup angin ke Tenggara dan Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf  teramati erupsi letusan sebanyak 5 kali, kepulan abu tebal tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 700-2000 m. Erupsi disertai guguran lava meluncur ke lereng Tenggara dan Timur sejauh 500-2300 m dan tidak disertai awan panas guguran. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 02-03 Agustus 2017 dilakukan pada Tanggal 06 Agustus 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 23700 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak sering berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 500 - 800 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Letusan terbesar terekam sebanyak 108 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-25 mm (dominan 3 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 200-400 m dari puncak, condong ke Timur dan Selatan. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan:- Letusan 45 kali- Hembusan 20 kali- Guguran  6 kali
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 10 Agustus 2017 Pukul 23:13 WIB, terkait dengan letusan dengan tinggi kolom abu 1000 m dari puncak atau 3460 m dari permukaan laut. Condong ke arah Barat.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 10 Agustus 2017 pukul 16:36 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.



Bandung; 11 Agustus 2017
PVMBG Badan Geologi, KESDM

<Berita Terkini>