Laporan Kebencanaan Geologi 05 Agustus 2017 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Sabtu, 05 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak berkabut. Hembusan asap putih tebal tidak teramati. Angin bertiup ke arah Tenggara dan Timur. Melalui rekaman seismograf terjadi letusan sebanyak 3 kali, kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut tebal. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Hari ini tidak terjadi guguran lava. Erupsi diikuti awan panas guguran 2 kali, jarak luncur 3000-4500 m ke lereng Tenggara dan Timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
VONA Terakhir kode warna ORANGE, terbit Tanggal 04 Agustus 2017 Pukul 15:43 WIB, terkait letusan selama 286 detik, tinggi kolom abu tidak teramati karena kabut tebal.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-600 m dari puncak, condong ke arah Timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 363 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km ke Utara dari puncak. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode warna ORANGE, terbit 04 Agustus 2017 pukul 08:32 WIT. Tinggi kolom abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual Ibu tampak cerah. Kolom abu erupsi putih kelabu, tekanan lemah sampai sedang mencapai ketinggian 200-500 m dari puncak, condong ke arah Timur dan Utara.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Barat.

G. Sangeangapi
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Sangeangapi (1949 m dpl). Gunung tampak sering berkabut.Teramati asap mengepul dari kawah mencapai ketinggian 25 m dari tepi kawah. 
Rekomendasi:
(1) Masyarakat, petani, pengunjung, dan wisatawan harus menjaga kewaspadaan dan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di dalam daerah:1. Radius 1.5 km dari pusat aktivitas G. Sangeangapi.
(2) Luncuran aliran piroklastik dan daerah di antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta pada  Lembah Sori Boro dan Sori Oi.
(3) Daerah aliran lahar pada saat musim hujan di semua lembah sungai yang berhulu dari pusat aktivitas/puncak G. Sangeangapi
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 19 Juli 2017 pukul 16:08 WITA. Tinggi kolom abu vulkanik setinggi 2649 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Condong ke arah Baratlaut.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, 
2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 
3. Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi; lereng yang agak terjal; minimnya pepohonan penahan lereng; tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air dan kurang berfungsinya drainase/saluran air.
Dampak :
1. Gerakan tanah /Tanah Longsor mengakibatkan jalan antar desa tertutup materia longsoran akibatnya arus lalulintasdi Morowali. 
2. Gerakan tanah / Tanah Longsor  mengakibatkan 1 (orang) meninggal dunia di Magelang
3. Gerakan tanah  / Tanah longsor mengakibatkan 173 Kepala Keluarga terisolasi karena badan jalan yang tertimbun material longsoran sepanjang 150 meter adalah satu-satunya akses jalan Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi*, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak berkabut. Kepulan asap putih tebal tidak twramati karena kabut. Angin bertiup ke arah Tenggara danTimur. Melalui rekaman seismograf  teramati erupsi letusan sebanyak 3 kali, tinggi kepulan abu tidak teramati karena tertutup kabut tebal. Erupsi tidak disertai guguran lava tetapi diikuti awan panas guguran 2 kali, jarak luncur teramati sejauh 3000-4500 m ke lereng Tenggara dan Timur. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pada Tanggal 19 Juli 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 2,3 juta m3. Pasca letusan besar 02 Agustus 2017 kubah lava di puncak sudah jauh berkurang.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas 02 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah sampai berkabut. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-600 m dari puncak, condong ke arah timur. Letusan terbesar terekam sebanyak 363 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-25 mm (dominan 6 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu sedang mencapai ketinggian 200-500 m dari puncak, condong ke Timur dam Utara.  Kegempaan:- Letusan 60 kali- Hembusan 28 kali- Guguran 14 kali- Tremor Harmonik 2   kali.

* Gunungapi Sangeangapi.
Gunungapi Sangeangapi (1949 m dpl) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya bertipe efusif (aliran) maupun eksplosif (lontaran). Letusan terbesar terakhir kali terjadi pada 30 Mei 2014 dimana ketinggian kolom abu mencapai ketinggian 12-14 km di atas permukaandi laut. Pasca letusan tersebut, aktivitas Sangeangapi belum sepenuhnya normal atau belum kembali ke kondisi kesetimbangannya. Oleh karena itu, status Level II (Waspada) dipertahankan. Setelah itu, aktivitas efusif berupa aliran lava terus terjadi dan dalam satu tahun terakhir indikasi aliran lava secara periodik dapat diamati melaui citra satelit Modis (NASA). 
Pada tanggal 15 Juli 2017 pukul 11:54 WITA G. Sangeangapi mengalami letusan eksplosif minor. Kolom abu kepulan asap kawah berwarna kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 200 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Barat.
Hasil pengamatan dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak sering berkabut dan secara visual teramati kepulan asap mencapai ketinggian 25 m dari puncak. Pengamatan seismik merekam- Tremor Harmonik 12 kali- Hembusan 2 kali- Vulkanik Dalam nihil- Vuljanik dangkal nihil.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak)/BPBD.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung,VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 04 Agustus 2017 Pukul 15:43 WIB, terkait dengan letusan selama 286 detik, tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut tebal.
(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 04 Agustus 2017 pukul 08:32 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur.
(3) G. Ibu, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juni 2017 pukul 09:35WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1525 m di atas permukaan laut atau 200 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
(4) G. Sangeangapi, VONA Terakhir dengan kode warna ORANGE, terbit 19 Juli 2017 pukul 16:08 WITA terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2649 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Baratlaut.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan Agustus  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Beberapa wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan utamanya   di wilayah Aceh dan Sumatera Barat, Sumatra Utara. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.

Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah*,
2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah*,
3. Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat*,  
4. Kota Jayapura, Provinsi Papua,  
5. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara,  
6. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara,  
7. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,  
8. Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur.  

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah
Gerakan tanah terjadi di jalur jalan penghubung desa Mohoni dan Bimor Jaya, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, pada hari Rabu malam, 2 Agustus 2017. Gerakan tanah mengakibatkan jalan antar desa tertutup materia longsoran akibatnya arus lalulintas sempat terhalang hingga Kamis pagi, 3 Agustus 2017.
Sumber berita :
http://radarsultengonline.com/2017/08/04/longsor-tutup-jalur-mohoni-bimor-jaya-di-morut/
Jenis gerakan tanah diperkirakan longsoran bahan rombakan yang mateialnya menutupi badan jalan. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diantaranya sifat tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan jenuh air saat hujan turun; kemiringan lereng yang terjal; dan curah hujan yang tinggi dan dalam durasi yang lama.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Menanam tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk menjaga kestabilan lereng;
• Membuat dinding penahan longsor;
• Guna meningkatkan kewaspadaan pengguna jalur jalan ini, supaya dimasang rambu peringatan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya.

2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi di kawasan lereng Gunung Merapi di Desa Kemiren, Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada hari Kamis, 3 Agustus 2017. Gerakan tanah mengabikatkan 1 (orang) meninggal dunia.
Sumber berita :
http://www.kbknews.id/2017/08/04/longsor-tewaskan-penambang-pasir-di-magelang/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing lereng. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diantaranya sifat tanah tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang; kemiringan lereng yang terjal sehingga tanah/batuan mudah bergerak.
Rekomendasi:
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran atau dibawah tebing agar selalu waspada terutama saat hujan;
• Tidak melakukan aktifitas diatas atau dibawah tebing yang terjal;
• Menanam tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk menjaga kestabilan lereng;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya.

3. Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat
Gerakan tanah terjadi pada badan jalan yang menghubungkan Paraman Ampalu Nagari Rabbi Jonggor Kecamatan Gunung Tuleh menuju Jorong Sitabu, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 sekitar pukul 17.25 WIB. Gerakan tanah mengakibatkan 173 Kepala Keluarga terisolasi karena badan jalan yang tertimbun material longsoran sepanjang 150 meter adalah satu-satunya akses jalan.
Sumber berita:
http://www.tabloidbijak.com/2017/08/ratusan-warga-nagari-rabbi-jonggor.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter&m=1
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Faktor penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal; sifat tanah pelapukan yang tebal serta gembur; dipicu oleh curah hujan tinggi.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
• Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
• Menanam tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk menjaga kestabilan lereng;
• Memasang rambu peringatan rawan longsor;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya.


PVMBG Badan Geologi, KESDM

<Berita Terkini>