Laporan Kebencanaan Geologi 18 Juni 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI  18 JUNI 2017 (06:00 WIB)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Minggu, 18 Juni 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (Awas). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini  tampak jelas hingga berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan 7 kali. Kolom abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 1000-4000 m dari puncak, condong ke arah Timur, Tenggara, Selatan, Baratdaya dan Barat. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng Timur dan Tenggara. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode RED, terbit Tanggal 17 Juni 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 6460 m dari permukaan laut atau 4000 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah Baratdaya.

G. Marapi: 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA) sejak tanggal 3 Agustus 2011. Marapi (2891 m dpl) pasca erupsi Tanggal 4 Juni 2017 (tinggi kolom abu 300-700 m dari puncak), dari kemarin sampai pagi ini, visual gunungapi sering tertutup kabut. Pengamatan secara visual tidak menunjukkan kepulan asap, angin bertiup Lemah ke arah Barat. Terekam 1 kali gempa Tektonik Lokal dan 1 kali gempa Tektonik Jauh. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos G. Marapi yang berjarak 14 km di baratlaut dari puncak.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 400-800 m dari puncak, condong ke arah Timur. Letusan terbesar terjadi sebanyak 23 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 0.5-25 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 17 Juni 2017 pukul 07:56 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Timur hingga Timurlaut.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juni  2017 di seluruh wilayah Indonesia masih menujukan pola relatif sama seperti bulan Mei 2017. Walaupun curah hujan relatif menurun dibanding sebelum bulan Mei 2017, gerakan tanah diperkirakan masih akan  berpeluang  terjadi di   Pulau Sumatra, Kalimantan , Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. 
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, Tebing jalan dengan lereng yang terjal, pemotongan lereng tanpa sistem pemotongan yang benar, sistem drainase yang kurang tertata baik, material pelapukan yang mudah luruh, berbatu dan jenuh air.
Dampak :
1. Longsor sepanjang 50 meter itu menutup badan jalan dan mengakibatkan ratusan kendaraan terhenti di lokasi longsoran.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
 
Gempa Bumi di baratlaut Morowali, Sulawesi Tengah
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu,  17 Juni 2017, pukul 21:23:51 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 2.62°LS dan 121.69° BT dengan magnitudo 5.0 SR pada kedalaman 102 km (kemudian di update: 10 km) berjarak 25 km baratlaut Morowali, Sulawesi Tengah.
Kondisi Geologi Daerah Terdekat:
Gempabumi berada di darat (daerah Morowali). Daerah di sekitar pusat gempabumi didominasi oleh batuan malihan berumur Pra Tersier & batuan terobosan berumur Tersier yang rekatif solid Dan resistan. Daerah Morowali sendiri tersusun Oleh Batuan karbonat berumur Tersier dan endapan Kuarter yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak Gempa Bumi:
Hingga tanggapan ini di buat belum ada laporan mengenai kerusakan atau pun korban jiwa.
Penyebab Gempa Bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif Matano yang berarah baratlaut-tenggara.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi*, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi sebanyak 7 kali. Kolom abu letusan putih tebal keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 1000-4000 m di atas puncak condong ditiup angin ke arah Timur, Tenggara, Selatan, Baratdaya dan Barat disertai guguran lava meluncur sejauh 500-1500 m ke lereng Timur dan Tenggara. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak.
Hasil pengukuran 14 Juni 2017, volume kubah lava yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 1.6 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Marapi.
Gunungapi Marapi tingginya 2891 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.  Marapi dikelilingi oleh Kota kabupaten terdekat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, dan Padangpanjang di Provinsi Sumatera Barat.
Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi sering berkabut. Pasca erupsi letusan tanggal 4 Juni 2017 terjadi beberapa kali letusan kecil atau hembusan berupa kepulan abu berwarna putih keabuan agak tebal dengan tekanan lemah mencapai ketinggian 50-75 m dari kawah. Dalam satu hari terakhir ini tidak terekam dan tidak teramati adanya letusan. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Marapi di Kota Bukittinggi yang berjarak 14 km di baralaut puncak. Terekam 1 kali gempa Tektonik Lokal dan 1 Kali gempa Tektonik Jauh.
Tingkat aktivitas G. Marapi sudah lama dalam Level II (WASPADA), dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan memasuki daerah  dalam  radius 3 km dari kawah/puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Pemerintah Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kota Padangpanjang tentang penanggulangan bencana erupsiMarapi. Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api sering tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 400-800 m dari puncak, condong ke arah Timur dan Timurlaut. Letusan terbesar terekam sebanyak 23 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0.5-25 mm (dominan 2 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim dengan Kode Warna RED, terbit Tanggal 17 Juni 2017 Pukul 14:07 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 6460 m dari permukaan laut atau 4000 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah Baratdaya.
(2) G. Marapi, Sumatera Barat. VONA terakhir terkirim dengan Kode Warna ORANGE, terbit pada 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan Kode Warna ORANGE, terbit 17 Juni 2017 pukul 07:56 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu condong ke arah ke Timur hingga Timurlaut.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Juni  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :
1. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur * ,
2. Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan,
3. Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat,  
4. Kota Ambon,Maluku,
5. Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara,
6. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat,  
7.Kabupaten Toli -Toli, Provinsi Sulawesi Tengah ,  
8.Kabupaten Minahasa Tenggara,  
9. Provinsi Sulawesi Utara,
10. Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo,
11. Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara,  
12. Kabupaten Enrekang, Provinsi, Sulawesi  Selatan,
13. Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara,
14.Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, 

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Jalur Jalan Lintas Flores lumpuh menyusul terjadinya longsor di Watubewa, Moni, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Sabtu (17/6/2017).Longsor sepanjang 50 meter itu menutup badan jalan dan mengakibatkan ratusan kendaraan terhenti di lokasi longsoran.
Sumber :
http://kupang.tribunnews.com/2017/06/17/breaking-news-jalur-jalan-lintas-flores-lumpuh-akibat-longsor
Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut serta material pelapukan yang mudah luruh dan jenuh air.
Rekomendasi :
- Agar masyarakat yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
- Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan terutama pada malam hari.
- Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan.
- Segera memperbaiki badan jalan untuk menghindari kemungkinan bertambah rusak akibat gerusan.


Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi

<Berita Terkini>