Kajian Gerakan Tanah Di Negeri Rutah Amahai Maluku Tengah

Selama 20 hari, sejak hari Minggu (07/05/17) hingga Sabtu (26/0517) sensor EWS berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali, dan pada selasa (14/05/17) sirine berbunyi kembali disertai suara retakan tanah yang keras pada lokasi pergeseran tanah. Hal itu membuat warga Negeri Rutah di Maluku Tengah panik dan takut sehingga akhirnya mengungsi di tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh BPBD Masohi. Setelah dilakukan pengecekan awal oleh masyarakat dan BPBD Masohi, terjadi pergeseran tanah dan amblesan tanah sedalam 40-80 cm pada lereng Gunung Amanahan yang memiliki kelerengan > 45o.
kajiangerakantanahdinegerirutahamahaimalukutengah

kajiangerakantanahdinegerirutahamahaimalukutengah1

kajiangerakantanahdinegerirutahamahaimalukutengah2

                    
Menanggapi kejadian tersebut dan menindak lanjuti permohonan dari BPBD Masohi, Maluku Tengah dengan terkait permintaan bantuan kajian gerakan tanah di Negeri Rutah, Amahai Maluku Tengah, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengirim Tim Tanggap Darurat (25-31.05/17). Tim yang dipimpin oleh Agus Solihin beranggotakan Anjar Heriwaseso, Iqbal Eras Putra.  Pada (27-30/05/17), Tim melakukan pengecekan geologi setempat dan alat EWS bersama dengan warga Negeri Rutah didampingi Kepala Bidang Kesiapsiagaan Sahulesi dari BPBD Masohi.
 
Disamping melakukan kajian geologi dan pemetaan gerakan tanah, tim juga melakukan pemetaan orthofoto menggunakan drone pemantauan dari Bidang Mitigasi Gerakan Tanah. Setelah melakukan survei kajian gerakan tanah dilihat dari kegeologian daerah setempat, Tim melakukan sosialisasi dan menjelaskan gambaran hasil kajian gerakan tanah berdasarkan hasil survei geologi dan sekaligus memberikan motivasi tentang kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap gerakan tanah. Diharapkan dari sosisalisasi tersebut masyarakat tidak mengalami ketakutan, kekuatiran, dan kepanikan kembali dan memahami situasi yang terjadi di Negeri Rutah.
kajiangerakantanahdinegerirutahamahaimalukutengah3
Kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman gerakan tanah berupa retakan dan amblesan tanah pada lereng Gunung Amanahan Negeri Rutah, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah. Selain fenomena retakan dan amblesan, alarm alat peringatan dini (LEWS = Landslide Early Warning System) yang dipasang pada bulan Agustus 2016 berbunyi. LEWS yang dipasang terdiri dari sensor EXTENSIOMETER (2 unit), TILTMETER (1 unit) dan Curah Hujan (1 unit). Sinyal alarm yang berbunyi memberikan informasi kepada masyarakat berupa peringatan  WASPADA 1 dan SIAGA 2. WASPADA 1 artinya telah terjadi hujan yang melewati batas yang ditentukan dalam 1 jam sedangkan SIAGA 2 artinya bahwa telah terjadi perubahan rekahan/amblasan dan kemiringan lereng (deformasi) yang ditangkap oleh sensor EXTENSIOMETER dan TILTMETER.
                               
Hasil Kajian
Hasil kajian sementara menunjukkan, bahwa kejadian gerakan tanah dan bunyi alarm LEWS yang terjadi antara lain disebabkan oleh :
-     Gerakan tanah yang terjadi sejak tahun 2015, dipicu oleh curah hujan tinggi dan gempa terasa yang terjadi di sekitar kepulauan Maluku.
-     Bunyi alarm yang terjadi pada tanggal 7 dan 9 Mei 2017, diakibatkan oleh curah hujan yang relatif tinggi (setelah diklarifikasi dengan data curah hujan dari BMKG selama periode Januri – Mei 2017).
-     Bunyi gemuruh retakan yang terjadi pada tanggal 14 Mei 2017, dipicu oleh kejadian gempa bumi terasa yang terjadi pada 12 Mei 2017 (5,2 SR, di Barat laut Maluku) dan 13 Mei 2017 (4,6 SR, di Barat daya Banda).
-     Bunyi alarm lainnya adalah diakibatkan oleh respon dari sensor Extensiometer atau Tiltmeter karena adanya gerakan tanah.
 
Berdasarkan hasil survei lapangan menunjukan:
-       Lokasi 1 terdapat retakan dengan koordinat 128o 58’ 33,8 “ oE dan 3o 21’ 29,5” oS berarah N 40 o E dengan arah gerakan tanah N 155 o E, terjadi beda tinggi 50 – 100 cm dengan lebar lk 30 cm.
-       Lokasi 2 dengan koordinat 128o 58’ 33,6 “ oE dan 3o 21’ 27,2” oS pernah terjadi longsoran/luncuran bongkah batu hingga area sekolahan.
-       Lokasi 3 dengan koordinat 128o 58’ 36 “ oE dan 3o 21’ 27,8” oS terdapat bongkah batugamping yang menggantung dengan sudut kemiringan >80o
-       Lokasi 4 ditemukan kontak antara batugamping dan sekis yang kaya urat kuarsit dengan koordinat 128o 58’ 6 “ oE dan 3o 21’ 27” oS .
-       Lokasi 5 merupakan lokasi alat dengan koordinat 128o 58’ 34,7 “ oE dan 3o 21’ 28,9” oS  Elevasi 77 m dpal. Pada lokasi tersebut EWS Extensiometer tidak berfungsi, sedangkan TILTmeter masih berfungsi. Kemiringan lereng pada lokasi alat berada adalah 34o
-       Lokasi 6 terdapat retakan terbaru dengan koordinat 128o 58’ 34,4 “ oE dan 3o 21’ 29,8” oS terjadi beda tinggi 70 cm dengan lebar lk 50 cm.
   
Secara umum kondisi geologi di daerah lereng/retakan adalah batugamping terumbu yang tidak selaras diatas sekis dengan urat kuarsit yang berlapis. Retakan-retakan berada pada batugamping yang kemungkinan diakibatkan adanya patahan atau amblesan karena sifat dari batugamping yang porous terhadap air dan membentuk lubang/gua. Karena sifat batugamping yang seperti ini, Kejadian gerakan tanah di wilayah ini dapat terjadi karena dipicu oleh pelapukan dan gempabumi terutama gempabumi terasa. Oleh karena itu diperlukan pemantauan khusus dengan difungsikan kembali alat pemantauan gerakan tanah (EWS) yang rusak dan kewaspadaan seluruh komponen masyarakat, lembaga dan BPBD Kabupaten Maluku Tengah untuk selalu memantau baik alat dan kesiapsiagaan masyarakat agar dapat berfungsi dengan baik untuk pencegahan dan mitigasi terhadap ancaman potensi gerakan tanah di Negeri Rutah, Amahai – Maluku Tengah.
  

       
Sumber : Agus Solihin PVMBG

 

<Berita Terkini>