Laporan Kebencanaan Geologi 14 Juni 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI  14 JUNI 2017 (06:00 WIB)

I. SUMMARY:
 
Hari ini, Rabu, 14 Juni 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (Awas). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini  lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan 3 kali. Kolom abu tebal putih keabuan tekanan sedang mengepul mencapai ketinggian 700-1000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah tenggara dan timur. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng tenggara dan timur. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 13 Juni 2017 Pukul 19:55 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3160 m dari permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur dan timurlaut.

G. Marapi: 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA) sejak tanggal 3 Agustus 2011. Marapi (2891 m dpl) pasca erupsi Tanggal 4 Juni 2017 (tinggi kolom abu 300-700 m dari puncak), dari kemarin sampai pagi ini, visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Pengamatan secara visual menunjukkan kepulan uap putih tipis tekanan lemah mencapai ketingian 100 m, angin bertiup ke arah timur. Terekam 1 kali gempa Tektonik Lokal dan 2 kali gempa Tektonik jauh. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos G. Marapi yang berjarak 14 km di baratlaut dari puncak.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi sering tampak cerah. Kolom abu erupsi putih-kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-600 m dari puncak, condong ke arah Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 16 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 0.5-24 mm (dominan 3 mm).
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 14 Juni 2017 pukul 07:19 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juni  2017 di seluruh wilayah Indonesia masih menujukan pola relatif sama seperti bulan Mei 2017. Walaupun curah hujan relatif menurun dibanding sebelum bulan Mei 2017, gerakan tanah diperkirakan masih akan  berpeluang  terjadi di   Pulau Sumatra, Kalimantan , Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. 
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulwesi Utara2. Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo3. Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara4. Kabupaten Enrekang,Provinsi Sulawesi  Selatan
Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, rumah di bangun di bawah tebing/lereng, kurangnya vegetasi ditasa lereng, pemotongan lereng/tebing jalan yaang tidak sesuai teknik pemotongan yang benar, sistem drainase yang kurang tertata baik, material pelapukan yang mudah luruh, berbatu dan jenuh air.
Dampak :
1. Longsor menimpa 21 rumah, Kecamatan Tombatu, dan 3 rumah. di Kecamatan Ratahan di Minahasa Tenggara
2. Longsor menyebabkan dua rumah warga tertimbun material dari lereng yang longsor di Kota Gorontalo
3. Terputusnya jalan penghubung antara Kabupaten Buton Selatan dengan Kota Baubau Sulawesi Tenggara4. Material tanah dan pohon yang tumbang menutupi sebagian badan jalan. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi*, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi sebanyak 3 kali. Kolom abu letusan putih tebal keabuan mengepul tekanan sedang mencapai ketinggian 700-1000 m di atas puncak condong ditiup angin ke arah timur dan tenggara. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng tenggara dan timur. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak  terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 0,8 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Marapi.
Gunungapi Marapi tingginya 2891 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.  Marapi dikelilingi oleh Kota kabupaten terdekat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, dan Padangpanjang di Provinsi Sumatera Barat.
Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi lebih sering tampak berkabut. Pasca erupsi letusan tanggal 4 Juni 2017 tampak letusan kecil atau hembusan berupa kepulan abu berwarna putih keabuan agak tebal dengan tekanan lemah mencapai ketinggian 50-100 m  dari puncak. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Marapi di Kota Bukittinggi yang berjarak 14 km di baralaut puncak. Terekam 1 kali gempa Tektonik Lokal dan 2 kali gempa Tektonik Jauh.
Tingkat aktivitas G. Marapi sudah lama dalam Level II (WASPADA), dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan memasuki daerah  dalam  radius 3 km dari kawah/puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Pemerintah Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kota Padangpanjang tentang penanggulangan bencana erupsiMarapi. Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api sering tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-600 m dari puncak, condong ke arah Barat. Amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0.5-24 mm (dominan 3 mm).
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim dengan Kode Warna ORANGE, terbit Tanggal 13 Juni 2017 Pukul 19:55 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3160 m dari permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur dan timurlaut.
(2) G. Marapi, Sumatera Barat. VONA terakhir terkirim dengan Kode Warna ORANGE, terbit pada 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan Kode Warna ORANGE, terbit 14 Juni 2017 pukul 07:19 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Juni  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :
1. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara*,
2. Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo*,
3. Kabupaten Buton Selatan*, Provinsi Sulawesi Tenggara,  
4. Kabupaten Enrekang, Provinsi, Sulawesi  Selatan*,  
5. Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara,
6.Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan,
7. Kabupaten Cianjur ,  Provinsi Jawa Barat  
8. Kabupaten Cirebon , Provinsi Jawa Barat,  
9. Kabupaten  Bogor, Provinsi, Jawa Barat,
10. Kabupaten Banyumas, Provinsi, Jawa Tengah,
11. Kota Ambon, Provinsi Maluku,
12. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah ,  
13. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.  

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kab. Minahasa Tenggara
Longsor melanda beberapa tempat di kecamatan Tombatu, lokasi terparah yaitu Desa Kali Oki, dan Desa Kali. Selain itu juga melanda di Desa Betelen, Desa Tombatu 3 Timur, dan Desa Tombatu 1. Sedangkan untuk di Kecamatan Ratahan terjadi di Kelurahan Tosuraya Barat. Longsor terjadi pada hari Senin, 12 Juni 2017, dini hari. Kecamatan Tombatu, bencana longsor menimpa 21 rumah, dan di Kecamatan Ratahan 3 rumah. Penyebab gerakan tanah diduga karena tingkat pelapukan yang  tinggi dan dipicu hujan dengan intensitas tinggi. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Sumber:
http://www.antaranews.com/berita/634819/puluhan-rumah-di-minahasa-tenggara-tertimbun-longsor
Rekomendasi:
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada.
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Meningkatkan sosisalisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.

2. Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Longsor melanda Kelurahan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, terjadi pada hari Senin malam, tanggal 12 Juni 2017. Longsor menyebabkan dua rumah warga tertimbun material dari lereng yang longsor. Penyebab gerakan tanah diduga karena tingkat pelapukan yang  tinggi dan dipicu oleh hujan deras. Tipe gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.
Sumber:
http://news.okezone.com/read/2017/06/13/340/1714459/longsor-gorontalo-2-rumah-warga-ambruk
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.

3. Kabupaten Buton Selatan
Longsor terjadi pada Kelurahan Katilombu, Kecamatan Sampolawa, pada hari Senin, 12 Juni 2017, dini hari. Longsor mengakibatkan terputusnya jalan penghubung antara Kabupaten Buton Selatan dengan Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Penyebab gerakan tanah diduga karena penggundulan hutan di bagian atas lereng serta curah hujan yang tinggi. Tipe gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.
Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2017/06/12/18265221/jalan.penghubung.buton.selatan-baubau.tertutup.longsor.
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat

4. Kabupaten Enrekang,Sulawesi  Selatan
Longsor terjadi di jalan Poros Enrekang-Sidrap, tepatnya di KM 7 Riso Desa Pinang, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Selasa Subuh, 13 Juni 2017. Material tanah dan pohon yang tumbang menutupi sebagian badan jalan. Penyebab gerakan tanah diduga karena tingkat pelapukan yang  tinggi dan dipicu oleh hujan yang deras. Tipe gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.
Sumber:
http://news.rakyatku.com/read/52567/2017/06/13/waspada-jalan-poros-enrekang-rawan-longsor
Rekomendasi:
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
• Waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
• Memasang rambu-rambu lokasi rawan bencana longsor pada titik lokasi yang terdampak
• Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.



Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi

<Berita Terkini>