Laporan Kebencanaan Geologi 13 Juni 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI13  JUNI 2017 (06:00 WIB)

I. SUMMARY:
Hari ini, Selasa , 13 Juni 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas  Level IV (Awas). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini  lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati kepulan uap putih agak tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 50-1000 m dari puncak dan teramati erupsi letusan sebanyak 6 kali disertai kepulan abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 1300-3000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah selatan dan baratdaya. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 800-2000 m ke lereng tenggara dan timur. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 12 Juni 2017 Pukul 14:42 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 4960 m dari permukaan laut atau 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah selatan-baratdaya.

G. Marapi: 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA) sejak lama yaitu Tanggal 3 Agustus 2011. Marapi (2891 m dpl) pasca erupsi Tanggal 4 Juni 2017 (tinggi kolom abu 300-700 m dari puncak) dari kemarin sampai pagi ini lebih sering berkabut. Pengamatan secara visual mejunjukkan kepulan uap putih tipis tekanan lemah mencapai ketingian 100 m, angin bertiup ke arah timur. Terekam 1 kali gempa vulkanik dan 2 kali gempa tektonik. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos G. Marapi yang berjarak 14 km di baratlaut dari puncak.
Rekomendasi: 
Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas dan memasuki dalam radius 3 km dari puncak.
VONA:
Pasca erupsi Tanggal 4 Juni 2017 telah terbit VONA dengan kode ORANGE sebanyak 5 kali. VONA terakhir ORANGE, terbit Tanggal 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi sering tanpak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan bertekanan tinggi mencapai ketinggian 500-900 m dari puncak, condong ke arah barat. Letusan terbesar terjadi sebngempa letusan terbesar sebanyak 23 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 12 Juni 2017 pukul 18:10 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juni  2017 di seluruh wilayah Indonesia masih menujukan pola relatif sama seperti bulan Mei 2017. Walaupun curah hujan relatif menurun dibanding sebelum bulan Mei 2017, gerakan tanah diperkirakan masih akan  berpeluang  terjadi di   Pulau Sumatra, Kalimantan , Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. 
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, 
2. Kabupaten Kabupaten Balangan,  Provinsi Kalimantan Selatan
Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, rumah di bangun di bawah tebing/lereng, sistem drainase yang kurang tertata baik, pondasi yang tidak menembus batuan keras, material pelapukan yang mudah luruh, berbatu dan jenuh air.
Dampak :
1. Jalan tertimbun material longsor di Kabupaten Buton.
2. Tubuh jalan rusak dan mengancam pengguna jalan , di Kabupaten Balangan.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Kejadian Gempabumi Tanggal 12 Juni 2017
1. Gempabumi di Baratdaya kota Sukabumi, Jawa Barat2. Gempa Bumi di Tenggara Kep. Talaud, Sulawesi Utara3. Gempa Bumi Seram Bagian Timur, Maluku4. Gempa Bumi di Baratdaya Sumedang, Jawa Barat

1. Kejadian Gempa Bumi di Baratdaya Kota Sukabumi 
Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Senin,  12 Juni 2017, pukul 06:15:07 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 8.36°LS dan 106.18° BT dengan magnitudo 6.3 SR pada kedalaman 10 km berjarak 179 km baratdaya Kota Sukabumi. Berdasarkan GFZ, pusat gempa bumi berada pada koordinat 8.25°LS dan 106.17 ° BT dengan magnitudo 5.7 Mw dan kedalaman 66km.
Kondisi Geologi Daerah Terdekat
Gempabumi berada di laut (baratdaya kota Sukabumi). Daerah yang terlanda gempabumi disusun oleh endapan aluvial pantai, endapan aluvial sungai, endapan rombakan gunungapi dan batuan sedimen tersier yang sebagian telah mengalami pelapukan. Batuan sedimen berumur tersier yang mengalami pelapukan dan endapan Kuarter pada umumnya bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated), dan memperkuat efek goncangan gempabumi, sehingga rawan terhadap gempabumi.
Penyebab Gempa Bumi
Diperkirakan oleh aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak Gempa Bumi
Berdasarkan laporan masyarakat, goncangan gempa bumi dirasakan di Kota Bandung, Pelabuhan Ratu dan Pangalengan dengan Intensitas II - III MMI, di Kota Bogor II MMI dan di Kota Jakarta I-II MMI. Belum ada laporan kerusakan ataupun korban jiwa. 
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2. Kejadian Gempa Bumi di Tenggara Kep. Talaud, Sulawesi Utara
Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Senin, 12 Juni 2017, pukul 11:30:32 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 3.93°LU dan 126.85° BT dengan magnitudo 5.1 SR pada kedalaman 10 km berjarak 19 km Tenggara Kep. Talaud, Sulawesi Utara. Sedangkan menurut GFZ, gempa berpusat di 3.79°LU dan 126.73° BT, magnituda M 5.0.
Kondisi Geologi Daerah Terdekat
Gempabumi berada di laut (Kep. Talaud). Daerah di sekitar pusat gempabumi yaitu Kep. Talaud tersusun oleh batuan sedimen, gunungapi, beku dan metamorf yang berumur Tersier yang cukup kompak, serta batuan Kuarter di sepanjang pantai  yang bersifat urai, lepas, dan belum kompak akan memperkuat efek getaran, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak Gempa Bumi
Belum ada laporan mengenai kerusakan atau pun korban jiwa.
Penyebab Gempa Bumi
Diduga aktivitas aktivitas zona subduksi di Punggungan Mayu
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan
• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami 

3. Kejadian Gempa Bumi Seram bagian timur, Maluku
Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Senin,  12 Juni 2017, pukul 22:46:44 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 5.61°LS dan 129.76° BT dengan magnitudo 5.2 SR pada kedalaman 10 km berjarak 248 km baratdaya seram bagian timur, Maluku. 
Kondisi Geologi Daerah Terdekat
Gempabumi berada di laut (baratdaya seram timur). Daerah di sekitar pusat gempabumi yaitu  Pulau Seram tersusun oleh batuan malihan berumur Pra Tersier yang relatif solid dan padat, sedangkan Pulau Ambon didominasi oleh batuan gunungapi berumur Tersier yang cukup kompak, namun endapan aluvium di sepanjang pantai  yang bersifat urai, lepas, dan belum kompak akan memperkuat efek getaran, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak Gempa Bumi
Belum ada laporan mengenai kerusakan atau pun korban jiwa.
Penyebab Gempa Bumi:
Diduga berasosiasi dengan zona subduksi Laut Banda, karena kedalaman pusat gempa yang sesuai dengan kedalaman zona Benioff.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami 

4. Kejadian Gempa Bumi di Baratdaya Sumedang 
Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Senin,  12 Juni 2017, pukul 19:14:18 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 6.87°LS dan 107.92° BT dengan magnitudo 2.7 SR pada kedalaman 10 km berjarak 5 km baratdaya sumedang.
Kondisi Geologi Daerah Terdekat
Gempabumi berada di darat (baratdaya Sumedang). Daerah disekitar pusat gempabumi tersusun batuan gunungapi dan batuan beku berumur Kuarter. Getaran gempabumi tersebut terasa pada batuan gunungapi yang bersifat lapuk maupun urai dan tidak terkompaksi dengan baik sehingga bersifat memperkuat efek goncangan gempabumi.
Penyebab Gempa Bumi:
Disebabkan oleh aktifitas sesar lokal di daerah tersebut.
Dampak Gempa Bumi:
Belum ada laporan baik mengenai kerusakan ataupun korban jiwa 
Rekomendasi
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. 
• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan
• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami karena lokasinya berada di darat.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi*, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung cerah-berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati kepulan uap putih agak tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 50-1000 m dari puncak dan teramati erupsi letusan sebanyak 6 kali, kolom abu tebal keabuan mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 1300-3000 m di atas puncak condong ditiup angin ke arah selatan dan baratdaya. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 800-2000 m ke lereng tenggara dan timur. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak  terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 0,8 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Marapi.
Gunungapi Marapi tingginya 2891 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.  Marapi dikelilingi oleh Kota kabupaten terdekat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, dan Padangpanjang di Provinsi Sumatera Barat.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak cerah-mendung. Pasca erupsi letusan tanggal 4 Juni 2017, sampai pagi ini teramati uap putih agak tebal mengepul lemah mencapai ketinggian 100 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Terekam 1 kali gempa vulkanik dan 2 kali gempa tektonik. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Marapi di Kota Bukittinggi yang berjarak 14 km di baralaut puncak. Gempa tektonik lokal tidak terekam.
Tingkat aktivitas G. Marapi sudah lama dalam Level II (WASPADA), dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan memasuki daerah  dalam  radius 3 km dari kawah/puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Pemerintah Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kota Padangpanjang tentang penanggulangan bencana erupsi Marapi. Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api sering tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan tinggi mencapai ketinggian 500-900 m dari puncak, condong ke arah barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 23 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan menerus 2 mm.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 12 Juni 2017 pukul 14:42 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 4960 m di atas permukaan laut atau 2500 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah selatan-baratdaya
(2) G. Marapi, Sumatera Barat. VONA terakhir terkirim pada 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB dengan kode ORANGE, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 12 Juni 2017 pukul 18:10 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Juni  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :  
1. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara*,
2.Kabupaten Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan,
3. Kabupaten Cianjur ,    
4. Kabupaten Cirebon , Jawa Barat,  
5.Kabupaten  Bogor, Jawa Barat,
6. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah,
7. Kota Ambon, Maluku,
8. Kota Semarang, Jawa Tengah ,  
9. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi,  
10.Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan,
11. Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah,

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 
1.   Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara
Tanah longsor mengakibatkan jalan terputus yaitu jalan yang menghubungkan Kecamatan Lasalimu, Lasalimu Selatan dan Siotapina menuju kecamatan Pasarwajo. Jalan tertimbun material longsor yang menutupi seluruh badan jalan yang mengakibatkan kendaraan bermotor dari dua arah tidak dapat melintas, tidak ada korban jiwa saat tanah longsor terjadi.
Sumber:
http://kabarbuton.com/berita/akses-pasarwajo-ke-lasalimu-putus 
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, kondisi geologi setempat, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan longsor
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pengguna jalan agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Membuat perkuatan lereng 
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

2.    Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan
Tanah longsor terjadi di pinggir jalan tepatnya di jembatan beton Desa Baruh Bahinu tepatnya di RT 3. Tanah longsor di dekat jembatan sudah terjadi selama beberapa bulan akibat hujan deras beberapa kali, lubang yang terjadi makin lama makin membesar.
Sumber:
http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/06/12/awas-ada-longsor-di-desa-baruh-bahinu-luar-pengendara-diminta-hati-hati-melintas  
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh erosi sungai, drainase yang kurang baik, kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan longsor, baik longsoran tebing maupun amblesan pada badan jalan.
• Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pengguna jalan agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Segera membersihkan material longsoran dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
• Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
• Membangung dinding penahan erosi sungai
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Membuat perkuatan lereng 
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.


Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi

<Berita Terkini>