Laporan Kebencanaan Geologi 12 Juni 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 12  JUNI 2017 (06:00 WIB)

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu , 12 Juni 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

1. Gunung Api

 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas  Level IV (Awas). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini  lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati kepulan uap putih agak tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 100-500 m dari puncak dan teramati erupsi letusan sebanyak 7 kali disertai kepulan abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 800-1500 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah barat dan timur. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 500-1500 m ke lereng enggara, timur. dan selatan Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 12 Juni 2017 Pukul 04:13 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3760 m dari permukaan laut atau 1300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah barat.

G. Marapi: 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA) sejak lama yaitu Tanggal 3 Agustus 2011. Marapi (2891 m dpl) pasca erupsi Tanggal 4 Juni 2017 (tinggi kolom abu 300-700 m dari puncak) dari kemarin sampai pagi ini lebih sering berkabut. Pengamatan secara visual mejunjukkan kepulan uap putih tipis tekanan lemah mencapai ketingian 50-100 m, angin bertiup ke arah timur. Terekam 3 kali gempa vulkanik dan 7 kali gempa tektonik. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos G. Marapi yang berjarak 14 km di baratlaut dari puncak.
Rekomendasi: 
Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas dan memasuki dalam radius 3 km dari puncak.
VONA:
Pasca erupsi Tanggal 4 Juli 2017 telah terbit VONA dengan kode ORANGE sebanyak 5 kali. VONA terakhir ORANGE, terbit Tanggal 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi sering tanpak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan bertekanan tinggi mencapai ketinggian 400-900 m dari puncak, condong ke arah barat. Letusan terbesar terjadi sebngempa letusan terbesar sebanyak 34 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 12 Juni 2017 pukul 06:56 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.
 

2. Gerakan Tanah
 
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juni  2017 di seluruh wilayah Indonesia masih menujukan pola relatif sama seperti bulan Mei 2017. Walaupun curah hujan relatif menurun dibanding sebelum bulan Mei 2017, gerakan tanah diperkirakan masih akan  berpeluang  terjadi di   Pulau Sumatra, Kalimantan , Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. 
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Cianjur , Jawa Barat
2. Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, rumah di bangun di bawah tebing/lereng, sistem drainase yang kurang tertata baik, pondasi yang tidak menembus batuan keras, material pelapukan yang mudah luruh, berbatu dan jenuh air.
Dampak :
1. Satu (1) rumah rusak berat dan 12 rumah terancam longsor di Cianjur.
2. Satu ( 1) tertimbun longsor tebing setinggi 8 meter mengalami longsor , di Cirebon
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
 

3. Gempa Bumi
 
Gempa Bumi di perairan baratdaya Pulau Buru, Maluku
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu,  11 Juni 2017, pukul 14:02:34 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 4.42°LS dan 126.15° BT dengan magnitudo 5.0 SR pada kedalaman 403 km berjarak 98 km baratdaya Pulau Buru, Maluku.
Kondisi Geologi Daerah Terdekat:Gempabumi berada di laut (baratdaya Pulau Buru). Daerah di sekitar pusat gempabumi yaitu Pulau Buru dan Pulau Seram tersusun oleh batuan malihan berumur Pra Tersier yang relatif solid dan padat, namun endapan aluvium di sepanjang pantai  yang bersifat urai, lepas, dan belum kompak akan memperkuat efek getaran, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.
Dampak Gempa Bumi:
Belum ada laporan mengenai kerusakan atau pun korban jiwa.
Penyebab Gempa Bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan zona subduksi Laut Banda, karena kedalaman pusat gempa yang sesuai dengan kedalaman zona Benioff.
Rekomendasi:
• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan waspada dengan kejadian gempabumi susulan.
• Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.
 

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi*, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 
*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung cerah-berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati kepulan uap putih agak tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 100-500 m dari puncak dan teramati erupsi letusan sebanyak 7 kali, kolom abu tebal keabuan mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 800-1500 m di atas puncak condong ditiup angin ke arah barat dan timur. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 500-1500 m ke lereng tenggara, timur dan selatan. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak  terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 0,8 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
*Gunungapi Marapi.Gunungapi Marapi tingginya 2891 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.  Marapi dikelilingi oleh Kota kabupaten terdekat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, dan Padangpanjang di Provinsi Sumatera Barat.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi ltampak cerah-mendung. Pasca erupsi letusan tanggal 4 Juni 2017, sampai pagi ini teramati uap putih agak tebal mengepul lemah mencapai ketinggian 50-100 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Terekam 3 kali gempa vulkanik dan 7 gempa tektonik. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Marapi di Kota Bukittinggi yang berjarak 14 km di baralaut puncak. Gempa tektonik lokal tidak terekam.
Tingkat aktivitas G. Marapi sudah lama dalam Level II (WASPADA), dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan memasuki daerah  dalam  radius 3 km dari kawah/puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Pemerintah Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kota Padangpanjang tentang penanggulangan bencana erupsi Marapi. Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api sering tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan tinggi mencapai ketinggian 400-900 m dari puncak, condong ke arah barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 34 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan menerus 2 mm.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 12 Juni 2017 pukul 04:13 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 3760 m di atas permukaan laut atau 1300 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah barat.
(2) G. Marapi, Sumatera Barat. VONA terakhir terkirim pada 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB dengan kode ORANGE, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 12 Juni 2017 pukul 06:56 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.
 

2. Gerakan Tanah
 
Pada bulan Juni  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :  1.Kabupaten Cianjur*, 2. Kabupaten Cirebon* , Jawa Barat,  3. Kabupaten  Bogor, Jawa Barat, 4. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 5. Kota Ambon, Maluku, 6. Kota Semarang, Jawa Tengah ,  7. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi,  8.Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 9. Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, 10. Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di Kampung Margalaksana RT.01 RW.06 Desa Girimukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 11 Juni 2017 siang hari.Dampaknya 1 rumah rusak berat dan 12 rumah terancam longsor.
Sumber :
TAGANA (Taruna Siaga Bencana) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Diberitakan di media sosial : https://www.instagram.com/p/BVMdP8_D_Yr/
Penyebab gerakan tanah diduga tingkat pelapukan yang  tinggi dan dipicu hujan deras dengan durasi yang cukup lama.
Tipe gerakan tanah merupakan longsoran material tanah.
Rekomendasi :
1. Pemilik rumah yang terancam agar selalu waspada dan bila perlu mengungsi ketempat yang lebih aman, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan.
2. Menata aliran permukaan/ drainase pada lereng tersebut.
3. Memasang rambu-rambu bahaya longsor sebagai bentuk mitigasi bencana.
4. Meningkatkan sosisalisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
5. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat
Gerakan tanah terjadi di tambang galian C tepatnya di Desa Ciawiasih, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kejadian gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 11 Juni 2017 pukul 12.15 WIB. Dampaknya tebing setinggi 8 meter mengalami longsor dan menimbun seorang kernet excavator bernama Arnadi (38) warga Desa Buntet.
Sumber :
http://www.cirebontrust.com/tebing-longsor-galian-c-di-kecamatan-susukanlebak-ditutup.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat pemotongan lereng yang terlalu tegak oleh aktifitas penambangan  sehingga lereng menjadi sangat terjal.
Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
1. Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
2. Meningkatkan sosisalisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
3. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.



Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi

<Berita Terkini>