Laporan Kebencanaan Geologi 11 Juni 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 11 JUNI 2017 (06:00 WIB)
 
I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu, 11 Juni 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:

1. Gunung Api
 
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas  Level IV (Awas). Sinabung (t2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini  lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati kepulan uap putih agak tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-2000 m dari puncak dan teramati erupsi letusan sebanyak 7 kali disertai kepulan abu tebal putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 800-1000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah barat, tenggara, dan timur. Erupsi disertai guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng tenggara dan timur. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 
-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Kode ORANGE, terbit Tanggal 10 Juni 2017 Pukul 23:10 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3460 m dari permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur dan tenggara.

G. Marapi: 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA) sejak lama yaitu Tanggal 3 Agustus 2011. Marapi (2891 m dpl) pasca erupsi Tanggal 4 Juni 2017 (tinggi kolom abu 300-700 m dari puncak) dari kemarin sampai pagi ini lebih sering berkabut. Pengamatan secara visual mejunjukkan kepulan uap putih tipis tekanan lemah mencapai ketingian 50 m, angin bertiup ke arah barat dan timur. Tidak terekam adanya gempa vulkanik dan tektonik. Tidak terdengar suara gemuruh di Pos G. Marapi yang berjarak 14 km di baratlaut dari puncak.
Rekomendasi: 
Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas dan memasuki dalam radius 3 km dari puncak.
VONA:
Pasca erupsi Tanggal 4 Juli 2017 telah terbit VONA dengan kode ORANGE sebanyak 5 kali. VONA terakhir ORANGE, terbit Tanggal 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup kabut. Kolom abu erupsi tidak teramati. Melalui rekaman seismograf tercatat gempa letusan terbesar terjadi sebanyak 5 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan 2 mm.
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Kode ORANGE, terbit 09 Juni 2017 pukul 08:02 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Juni  2017 di seluruh wilayah Indonesia masih menujukan pola relatif sama seperti bulan Mei 2017. Walaupun curah hujan relatif menurun dibanding sebelum bulan Mei 2017, gerakan tanah diperkirakan masih akan  berpeluang  terjadi di   Pulau Sumatra, Kalimantan , Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. 
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Bogor, Jawa Barat
2. Kabupaten Banyumas, Jawa Barat
Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, rumah di bangun di bawah tebing/lereng, sistem drainase yang kurang tertata baik, pondasi yang tidak menembus batuan keras, material pelapukan yang mudah luruh, berbatu dan jenuh air.
Dampak :
1. Dua rumah alami rusak ringan, satu rumah alami rusak sedang dan  bendungan PLTM alami kerusakan di Kabupaten Bogor
2. Enam (6) rumah dan kandang sapi teracam, di Banyumas
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
 
1. Gunung Api
 
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi*, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 

*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati kepulan uap putih agak tebal mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 500-2000 m dari puncak dan teramati erupsi letusan sebanyak 7 kali, kolom abu tebal keabuan mengepul dengan tekanan sedang mencapai ketinggian 800-1000 m di atas puncak condong ditiup angin ke arah barat, tenggara, dan timur. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 500-1000 m ke lereng tenggara dan timur. Erupsi tidak disertai awan panas guguran/letusan. Tidak  terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 0,8 m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
*Gunungapi Marapi.
Gunungapi Marapi tingginya 2891 m dari permukaan laut terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.  Marapi dikelilingi oleh Kota kabupaten terdekat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, dan Padangpanjang di Provinsi Sumatera Barat.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi lebih sering tampak berkabut. Pasca erupsi letusan tanggal 4 Juni 2017, sampai pagi ini teramati uap putih agak tebal mengepul lemah mencapai ketinggian 50 m dari puncak. Angin bertiup ke arah barat dan timur. Tidak terekam baik gempa vulkanik maupun tektonik. Tidak terdengar suara gemuruh dan dentuman dari Pos Marapi di Kota Bukittinggi yang berjarak 14 km di baralaut puncak. Gempa tektonik lokal tidak terekam.
Tingkat aktivitas G. Marapi sudah lama dalam Level II (WASPADA), dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan memasuki daerah  dalam  radius 3 km dari kawah/puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Pemerintah Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kota Padangpanjang tentang penanggulangan bencana erupsi Marapi. Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tertutup kabut. Kolom abu erupsi tidak teramati. Melalui rekaman seismograf gempa letusan terbesar terjadi sebanyak 5 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak. Amplitudo dominan tremor hembusan menerus 2 mm.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
- BMKG, 
- Air Nav, 
- Air Traffic Control, Airlines,
- VAAC Darwin, 
- VAAC Tokyo, 
- dll
*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 10 Juni 2017 pukul 23:10 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah tenggara dan timur.
(2) G. Marapi, Sumatera Barat. VONA terakhir terkirim pada 04 Juni 2017 Pukul 16:24 WIB dengan kode ORANGE, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 3191 m dari permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ditiup angin ke arah timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 09 Juni 2017 pukul 08:02 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah timur.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan Juni  2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :  1.Kbupaten Bogor, Jawa Barat*, 2. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah*, 3. Kota Ambon, Maluku, 4. Kota Semarang, Jawa Tengah ,  5. Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi,  6.Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 7. Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, 8. Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 9.Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 10.Kabupaten  Enrekang, Sulawesi Selatan.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 

1. Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Longsor kembali terjadi di Bogor Akibat tingginya curah hujan dan jebolnya bendungan PLTM Jum’at (10/6/2017). Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 06.10 WIB di Kampung Muara RT 03/02, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan.Dampaknya adalah dua rumah alami rusak ringan dan satu rumah alami rusak sedang. Begitu pula dengan bendungan PLTM yang alami kerusakan.Tidak ada korban jiwa atas peristiwa gerakan tanah tersebut. Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran Bahan Rombakan (Debris).
Sumber:http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2017/06/10/longsor-terjadi-di-pamijahan-bogor-3-rumah-rusak/
Rekomendasi :
1. Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. Masyatakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
2. Segera membersihkan material gerakan tanah dan melakukan pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
3. Membuat diding pernahan longsor/infrastruktur mitigasi terhadap longsor
4. Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut 
5. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

2. Kabupaten Banyumas , Jawa Tengah
Gerakan Tanah kembali terjadi di Kabupaten Banyumas. Tebing sawah setinggi 15-20 meter dan lebar 30 meter longsor di Grumbul Sawangan, Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Jumat (9/6) pukul 01.00 WIB dini hari dan menutup aliran Sungai Bangkong. Akibatnya material longsor yang menimbun dan menutup aliran Sungai Bangkong Sabrang, Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah dan mengancam sebuah kandang sapi serta 6 rumah yang ada di dekatnya. Tidak ada korban jiwa dalam bencana gerakan tanah ini. Aparat gabungan dari BPBD, Tagana dan warga langsung membersihkan material longsoran tebing dan sawah yang menutup aliran Sungai Bangkong dengan menggunakan pompa air dan semprotan besar, sehingga air dalam bendungan itu mulai surut. Penyebab gerakan tanah adalah tingkat pelapukan yang tinggi, lereng yang curam dengan bentuk lahan sawah diatas. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah (earth).
Sumber:
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/tebing-sawah-longsor-tutup-sungai-bangkong/
https://kompas.id/baca/multimedia/2017/06/10/tanah-longsor/
Rekomendasi :
1. Pemilik rumah yang terancam diharapkan selalu waspada dan bila perlu mengungsi di tempat yang aman, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan.
2. Segera membersihkan material longsoran yang menghambat aliran air sungai.
3. Melandaikan lereng, tidak mencetak sawah pada lereng yang curam dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan bronjong/ penahan lereng.
4. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
5. Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

Salam hormat
Ego Syahrial
Ka Badan Geologi

<Berita Terkini>