Laporan Kebencanaan Geologi 19 Mei 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 19 MEI 2017 (06:00 WIB)

 

I. SUMMARY:
Hari ini, Jumat, 19 Mei 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:


1. Gunung Api.

 
G. Sinabung: 
Status  Level IV (Awas), secara visual dari kemarin sampai pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan sebanyak 2 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 3600 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah timur. Tidak terdengar suara gemuruh dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi diikuti oleh guguran lava yang meluncur sejauh 700-1500 m ke selatan dan tenggara dan tidak diikuti awan panas guguran/letusan.Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi: 

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Kode ORANGE, terbit Tanggal 18 Mei 2017 Pukul 05:43 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 6060 m dari permukaan laut atau 3600 m dari puncak. Condong ditiup angin ke arah timur.

G. Dukono:
Status Level II (Waspada), erupsi secara menerus terjadi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 300-700 m dari puncak, condong ke arah barat dan selatan. Letusan terbesar terjadi sebanyak 31 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Kode ORANGE, terbit 19 Mei 2017 pukul 07:09 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke barat.

G. Lokon:
Tingkat aktivitas Gunungapi Lokon sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 25-150 m di atas kawah puncak. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik. Biasanya peningkatan gempa vulkanik akan segera diikuti letusan abu. Dari kemarin terekam gempa vulkanik:-Vulkanik Dalam (6 kali)-Vulkanik Dangkal (20 kali)-Hembusan (31 kali)-Amplitudo dominan tremor menerus 2 mm.Jumlah gempa vulkanik agak menurun dibandingkan Tanggal 14 Mei 2017.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (Pusat aktivitas vulkanik)

VONA:

Kode YELLOW, terbit 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA terkait dengan peningkatan aktivitas kegempaan G. Lokon dimana secara visual belum menunjukkan terjadinya erupsi.
Masyarakat/wisatawan/pendaki agar mematuhi Peta Kawasan Rawan (KRB) dari Badan Geologi. 
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah.

Pada bulan Mei 2017, Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Mei 2017 di seluruh wilayah Indonesia menujukan pola distribusi curah hujan masih tetap tinggi seperti bulan April 2017. Gerakan Tanah diperkirakan masih terjadi dari  Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa, mengingat masih tingginya curah hujan, pertumbuhan dan alih fungsi lahan cukup masif diwilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1. Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara2. Kabupaten Buleleng, Bali3. Kabupaten Gowa, Sulawesi Utara

Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, kurang vegetasi di bagian hulu, material pelapukan yang mudah luruh dan jenuh air, rumah dibangun diatas tebing, serta gerakan tanah / longsor lama terulang kembali

Dampak:
1. Longsor mengakibatkan gangguan  lalu lintas jalan, di Minahasa.2. Satu (1 ) korban tertimbun di Kabupaten Buleleng, Bali3. Longsor mengakibatkan gangguan lalu lintas dan satu rumah terancam di Kabupaten Goa, Sulawesi Utara. 

Pelaksanaan  Tanggap Darurat  sampai dengan tanggal 19 Mei 2017 ;
1. Kabupaten Luwuh Timur, Sulawesi Selatan: Tim telah menyelesaikan pelaksanaan  tanggap darurat dan rekomendasi teknis mitigasi gerakan tanah telah disampaikan dan disosialisasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu dan masyarakat  Kabupaten Luwu. 
2. Kabupaten Bandung Barat , Jawa Barat; sampai dengan tanggal 18 Mei 2017,  Tim Tanggap Darurat , Badan Geologi  masih melanjutkan pemeriksaan di lapangan .
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Cimahi, Jawa Barat, 18 Mei 2017
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 18 Mei 2017, pukul 15:55 WIB. Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 6,88° LS dan 107,56° BT, dengan magnitudo M 2,8 pada kedalaman 11 km, berjarak 12 km tenggara Cimahi, Jawa Barat.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di darat di barat laut cekungan Bandung. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi disusun oleh Aluvium dan batuan Vulkanik berumur Kuarter. Guncangan gempa bumi akan terasa kuat pada batuan Kuarter karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan. 
Penyebab gempa bumi:Berdasarkan kedalaman pusat gempa bumi yang dangkal, maka kemungkinan gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas sesar. Pusat gempa bumi berlokasi sekitar 11 km sebelah selatan Sesar Lembang. Dengan mempertimbangkan adanya faktor kesalahan (error) dalam penentuan pusat gempa bumi, maka gempa bumi ini kemungkinan berasosiasi dengan aktivitas Sesar Lembang.

Dampak gempa bumi:

Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan waspada dengan kejadian gempabumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

 

II. DETAIL
 

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon*, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 


*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 2 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 3600 m, condong ditiup angin ke arah timur. Tidak  terdengar suara gemuruh di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi diikuti guguran lava meluncur sejauh 700-1500 m ke lereng selatan dan tenggara serta tidak diikuti guguran lava dan awan panas letusan/guguran.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan adalah sekitar 0,5 juta m3 atau 521.536 m3. (Ukuran Panjang = 106 m, Lebar = 152.8 m, Tebal = 32,2 m, pengukuran 21 April 2017)
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 300-700 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah barat dan selatan. Letusan terbesar terjadi sebanyak 31 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*G. Lokon.
Gunungapi Lokon terletak sebelah barat Kota Tomohon Sulawesi Utara. Gunungapi ini cukup aktif dan sering erupsi bertipe letusan yang kadang-kadang diikuti luncuran awan panas. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual sampai pagi ini gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 25-150 m di atas kawah puncak. Arah angin utara dan barat. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik yang biasanya segera diikuti oleh letusan abu. Dari kemarin hingga pagi ini pukul 06:00 WITA terekam dan teramati kegempaan:

-Vulkanik Dalam 6 kali-Vulkanik Dangkal 20 kali

-Hembusan 31 kali-Amplitudo dominan tremor menerus 2 mm.Jumlah gempa vulkanik agak menurun dibandingkan Tanggal 14 Mei 2017. Meskipun letusan belum terjadi dan tidak dapat dipastikan, tetapi probabilitas untuk terjadi letusan masih tinggi.
Koordinasi dengan Pemda dan BPBD Tomohon maupun pihak terkait lainnya termasuk stakeholders penerbangan telah dan terus dilakukan untuk meminimalisir risiko bencana.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (pusat aktivitas vulkanik)

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG, 

- Air Nav, 

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin, 

- VAAC Tokyo, 

- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 18 Mei 2017 pukul 05:43 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 6060 m di atas permukaan laut atau 3600 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 19 Mei 2017 pukul 07:09 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 1729 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah barat.
(3) G. Lokon, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA dengan kode warna YELLOW terkait peningkatan gempa vulkanik dan setiap saat dapat diikuti letusan abu. Sampai pagi ini belum diikuti letusan. Angin bertiup ke arah utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah

Pada bulan Mei 2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di 1. Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara*, 2.  Kabupaten Buleleng, Bali*, 3. Kabupaten Gowa, Sulawesi Utara*, 4. Asahan, Sumatera Utara, 5. Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, 6. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 7. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, 8. Kabupaten Merangin , Jambi, 9. Kabupaten Lampung Barat, Lampung, 10. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, 11. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, 12. Kabupaten Kampar, Riau, 13.Kabupaten Nagan Raya, Aceh , 14. Kota Samarinda, Kalimantan Timur.


*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 


1. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
Intensitas curah hujan yang relatif tinggi mengakibatkan sejumlah titik di Minahasa kembali dilanda banjir dan tanah longsor, Rabu (17/5) kemarin.Sejumlah titik longsor dilaporkan terjadi di rute Tondano - Manado tepatnya di ruas jalan antara Desa Suluan, Kecamatan Tombulu, menuju Desa Kulo dan ruas jalan dari Desa Touliang Oki Kecamatan Eris menuju Kecamatan Kombi. Data yang dirangkum Media Sulut, longsor di dua titik ini sempat mengganggu lalu lintas jalan.Tak hanya memicu longsor, cuaca ekstrim juga mengakibatkan Kelurahan Tataaran Kecamatan Tondano Selatan kembali diterjang banjir.

Sumber : www.//mediasulut.co/detailpost/banjir-dan-longsor-teror-minahasa   

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran dan jatuhan batu. Pengontrol gerakan tanah diperkirakan; kemiringan lereng yang terjal, tanah pelapukan yang tebal dan gembur serta dipicu oleh hujan deras dengan durasi yang cukup lama.

Rekomendasi :

• Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada, karena daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor.

• Dalam membersihkan material gerakan tanah/ tanah longsor harap waspada terhadap potensi longsor susulan

• Membuat penahan lereng

• Memelihara vegetasi atau tidak melakukan penebangan pohon secara sembaranga.

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah. 

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

 

2. Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
Naas menimpa Putu Tangkas (15) asal Dusun Kembang Sari, Desa Pangkung Paruk, Seririt. Saat tengah melakukan pengerjaan penggalian senderan jalan jurusan Pupuan-Seririt, Rabu (17/5) ia justru tertimbun material longsor dan tewas dilokasi kejadian. Diduga longsor diakibatkan getaran yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintas dijalan tersebut. Kini jenasah korban telah dibawa ke Puskesmas I Pupuan.Salah seorang warga Pupuan, Ketut Baasir mengatakan longsor terjadi sekitar pukul 16.00 wita. Saat itu enam pekerja tengah melakukan pengerjaan penggalian pembuatan senderan jalan utama penghubung Pupuan – Seririt, tepatnya di dusun Semoja, Pupuan. Diduga saat para pekerja melakukan pekerjaan menggali tepat dibawah jalan utama, tanah yang relatif labil akibat getaran kendaraan yang melintas menyebabkan terjadinya gerakan tanah.

Sumber : www.balipost.com/news/2017/05/17/9000/Penggali-Senderan-Tertimbun-Longsor.html 

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran. Gerakan tanah dikontrol oleh tebing jalan dengan kelerengan curam, tanah yang gembur dipicu oleh curah hujan yang cukup tinggi dan getaran dari kendaraan.

Rekomendasi :

• Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada terhadap potensi longsoran.

• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan

• Pemasangan tembok penahan lereng

• Perbaikan saluran drainase agar aliran air tidak mudah menjenuhi lereng

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.



3. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan
Jalan poros yang menghubungkan Kabupaten Gowa-Sinjai Barat sementara terganggu. Longsor terjadi di Desa Mamampang, Kecamatan Tombolo Pao, Kamis dini hari (18/5/2017). Menurut salah seorang warga Tombolo Pao, Sijaya Kadir mengatakan, penyebab longsor tesebut akibat hujan deras yang berlangsung sejak malam hingga pagi.  Sijaya menambahkan, longsor ini nyaris merobohkan satu rumah warga bernama Sulaiman. Rumah itu persis berada di bibir tebing yang longsor.

Sumber: www.fajaronline.com/2017/05/18/rumah-warga-di-gowa-nyaris-terbawa-longsor 

Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran. Gerakan tanah ini dikontrol oleh tebing jalan dengan kemiringan curam, serta tanah pelapukan yang tebal dan gembur dan dipicu curah hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang cukup lama.

Rekomendasi :

• Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada terhadap potensi longsoran.

• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan

• Dalam membersihkan material gerakan tanah/ tanah longsor harap waspada terhadap potensi longsor susulan

• Pemasangan tembok penahan lereng

• Tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan

• Perbaikan saluran drainase agar aliran air tidak mudah menjenuhi lereng

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

 

Salam hormat

Ego Syahrial

 

<kembali>