Laporan Kebencanaan Geologi 18 Mei 2017 (06:00 Wib)

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI 18 MEI 2017 (06:00 WIB)


I. SUMMARY:
Hari ini, Kamis, 18 Mei 2017, Bencana Geologi yg terjadi sbb:


1. Gunung Api


G. Sinabung: 
Status  Level IV (Awas), secara visual dari kemarin sampai pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual dan melalui rekaman seismograf terjadi  erupsi letusan sebanyak 5 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 2000-4000 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah timur dan timurlaut. Terdengar suara gemuruh lemah dari Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi diikuti oleh guguran lava yang meluncur sejauh 1000 m dan tidak diikuti awan panas guguran/letusan.Bendungan Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas di Sungai Laborus masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi: 

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Kode ORANGE, terbit Tanggal 17 Mei 2017 Pukul 16:49 WIB, terkait erupsi letusan abu mencapai ketinggian 6460 m dari permukaan laut atau 4000 m dari puncak. Condong ditiup angin ke arah timur.

G. Dukono:
Status Level II (Waspada), erupsi secara menerus terjadi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus putih keabuan tekanan sedang mencapai ketinggian 200-700 m dari puncak, condong ke arah selatan. Letusan terbesar terjadi sebanyak 30 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km utara dari puncak.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Kode ORANGE, terbit 17 Mei 2017 pukul 18:53 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

G. Lokon:
Tingkat aktivitas Gunungapi Lokon sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 25-150 m di atas kawah puncak. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik. Biasanya peningkatan gempa vulkanik akan segera diikuti letusan abu. Dari kemarin terekam gempa vulkanik:-Vulkanik Dalam (7 kali)-Vulkanik Dangkal (26 kali)-Hembusan (19 kali)-Amplitudo dominan tremor menerus 3 mm.Jumlah gempa vulkanik agak menurun dibandingkan Tanggal 14 Mei 2017.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (Pusat aktivitas vulkanik)

VONA:

Kode YELLOW, terbit 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA terkait dengan peningkatan aktivitas kegempaan G. Lokon dimana secara visual belum menunjukkan terjadinya erupsi.
Masyarakat/wisatawan/pendaki agar mematuhi Peta Kawasan Rawan (KRB) dari Badan Geologi. 
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

 
Pada bulan Mei 2017, Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Mei 2017 di seluruh wilayah Indonesia menujukan pola distribusi curah hujan masih tetap tinggi seperti bulan April 2017. Gerakan Tanah diperkirakan masih terjadi dari  Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa, mengingat masih tingginya curah hujan, pertumbuhan dan alih fungsi lahan cukup masif diwilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten Asahan, Sumatera Utara2. Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan

Penyebab:
Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama, kemiringan lereng yang terjal, kurang vegetasi di bagian hulu, material pelapukan yang mudah luruh dan jenuh air, erosi tebing sungai serta gerakan tanah / longsor lama terulang kembali

Dampak:
1. Satu buah rumah tertimbun longsor menimbulkan korban luka yang kini sudah dalam perawatan di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara 

2. Akibatnya saat ini puluhan  rumah terancam amblas masuk kedalam Sungai Rupit, Musi Rawas, Sumatera Selatan

Pelaksanaan  Tanggap Darurat  sampai dengan tanggal 18 Mei 2017 :

1. Kabupaten Luwuh Timur, Sulawesi Selatan
a. Menindaklanjuti , Kejadian Gerakan Tanah / Tanah Longsor pada tanggal 12 Mei 2017 di Kabupaten Luwuh Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Geologi mengirimkan Tim Tanggap Darurat  pada tanggal 13 Mei 2017.

b. Perkembangan kerja sampai dengan 17 Mei 2017, i. Tim Tanggap Darurat telah melakukan koordinasi dengan BPBD  Kabupaten Luwu dan Tim telah menyelesaikan kegiatan pemeriksaan di lokasi bencana.

c. Tim Telah menyampaikan hasil sementara pemeriksaan untuk diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Luwuhd. Atas permintaan Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu pada tanggal 17 Mei  2017 telah dilakukan  sosialisasi rekomendasi teknis mitigasi gerakan tanah  kepada BPBD Kabupaten Luwu dan masyarakat  Kabupaten Luwu. 

2. Kabupaten Bandung Barat , Jawa Barat
a. Terjadi retakan tanah  yangberpotensi berkembang menjadi  gerakan tanah di Kampungpondok datar, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rancabali. Mengingat keretakan terus terjadi sejak tanggal 5 Mei 2017 berpotensi mengancam 36 rumah dengan 45 Kepala Keluarga dan 139 jiwa, BPBD Kabupaten Bandung Barat meminta kajian segera kondisi tersebut kepada Badan Geologi

b. Sampai dengan tanggal 18 Mei 2017  Tim Tanggap Darurat , Badan Geologi melanjutkan pemeriksaan di lapangan  .
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi

Laporan Tindak Lanjut Tim Tanggap Darurat Badan Geologi terkait Gempa Buleleng, Bali hingga 17 Mei 2017:
1. Tim Tanggap Darurat (TD) Badan Geologi berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Buleleng kemudian menyerahkan peta KRB gempabumi provinsi Bali dan mengenalkan aplikasi magma Indonesia serta mengenalkan cara mengunduh peta dari website PVMBG.
2. Tim TD beserta tim BPBD bersama-sama ke desa Tejakula untuk melihat kerusakan akibat gempa. Di desa Tejakula ada sebuah sanggah yg mengalami kerusakan berupa jatuhnya ornamen2 sanggah.
3. Penyebab utama kerusakan sebagian jalan di desa Tejakula adalah ambruknya dinding penyangga akibat banjir bandang bulan februari tahun 2017. Namun karena belum sempat di perbarui kemudian terjadi gempa sehingga memicu material penyusun jembatan runtuh sebagian. 
4. Tim TD Badan Geologi melakukan pengukuran mikrotremor  pada 5 titik di Kab.Buleleng.
5. Tim TD Badan Geologi melakukan sosialisasi langsung kepada para wartawan dan masyarakat desa Tejakula yg sangat resah karena daerah ini relatif jarang terjadi gempabumi.
6. Sejak tanggal 14 mei 2017 hingga tanggal 17 mei 2017 telah terjadi 9 kali gempabumi di sekitar desa Tejakula. Gempa paling besar dengan magnitudo 3.7 SR. Gempa yg terjadi hari ini terjadi tadi pagi dengan magnitudo 2.2 SR.
7. Kab.Buleleng disamping rawan gempa juga rentan terjadi gerakan tanah.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon*, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono*, dan Banda Api); dan 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1. 


*Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung lebih sering tampak berkabut. Secara visual atau melalui rekaman seismograf teramati erupsi letusan sebanyak 5 kali. Kepulan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 2000-4000 m, condong ditiup angin ke arah timur dan timurlaut. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di tenggara dari puncak. Erupsi diikuti guguran lava meluncur sejauh 1000 m ke lereng tenggara timur dan tidak diikuti guguran lava dan awan panas letusan/guguran.
Volume kubah lava sekarang yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava ke depan  adalah sekitar 0,5 juta m3 atau 521.536 m3. (Ukuran Panjang = 106 m, Lebar = 152.8 m, Tebal = 32,2 m, pengukuran 21 April 2017)
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas pada tanggal 10 April 2017 yang lalu, meluncur sejauh 3,5 km ke lereng tenggara dan timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau kecil yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak cerah. Kolom abu erupsi menerus kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 200-700 m dari puncak, condong ditiup angin ke arah selatan. Letusan terbesar terjadi sebanyak 30 kali. Terdengar suara gemuruh lemah sampai sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km  di lereng utara dari puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Tobelo tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*G. Lokon.
Gunungapi Lokon terletak sebelah barat Kota Tomohon Sulawesi Utara. Gunungapi ini cukup aktif dan sering erupsi bertipe letusan yang kadang-kadang diikuti luncuran awan panas. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Secara visual sampai pagi ini gunung sering tampak jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 25-150 m di atas kawah puncak. Arah angin utara dan barat. Sejak 14 Mei 2017 terjadi peningkatan kegempaan vulkanik yang biasanya segera diikuti oleh letusan abu. Dari kemarin hingga pagi ini pukul 06:00 WITA terekam dan teramati kegempaan:-Vulkanik Dalam 7 kali-Vulkanik Dangkal 26 kali-Hembusan 19 kali-Amplitudo dominan tremor menerus 3 mm.Jumlah gempa vulkanik agak menurun dibandingkan Tanggal 14 Mei 2017. Meskipun letusan belum terjadi dan tidak dapat dipastikan, tetapi probabilitas untuk terjadi letusan masih tinggi.
Koordinasi dengan Pemda dan BPBD Tomohon maupun pihak terkait lainnya termasuk stakeholders penerbangan telah dan terus dilakukan untuk meminimalisir risiko bencana.

Rekomendasi:

Masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari Kawah Tompaluan (pusat aktivitas vulkanik)
Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG, 

- Air Nav, 

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin, 

- VAAC Tokyo, 

- dll

*VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim pada 17 Mei 2017 pukul 16:49 WIB dengan kode warna ORANGE terkait letusan abu vulkanik mencapai ketinggian 6460 m di atas permukaan laut atau 4000 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah timur.
(2) G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 17 Mei 2017 pukul 18:53 WIT dengan kode warna ORANGE terkait letusan disertai abu vulkanik setinggi 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak dan condong ditiup angin ke arah selatan.
(3) G. Lokon, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim pada pada 14 Mei 2017 pukul 15:34 WITA dengan kode warna YELLOW terkait peningkatan gempa vulkanik dan setiap saat dapat diikuti letusan abu. Sampai pagi ini belum diikuti letusan. Angin bertiup ke arah utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah

Pada bulan Mei 2017, Gerakan Tanah diperkirakan masih berpeluang terjadi dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Daerah-daerah tersebut mencakup utamanya di daerah perbukitan dan pegunungan serta wilaya jalur jalan  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan;Jambi bagian barat daya; Sebagian Lampung baratdaya; sebagian kecil baratdaya Prov. Riau; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Sumatra Selatan bagian barat; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Banten baratlaut, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian tengah, tenggara dan utara; Yogyakarta bagian barat, utara dan timur laut; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah dan utara; sebagian  wilayah Kalimantan barat dan Timur; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sebagian utara Gorontalo; Sebagian kecil tenggara dan tengah Sulawesi barat; bagian selatan, utara dan timur Sulawesi Selatan; Sulawesi Utara bagian tengah; Nusa Tenggara Barat bagian barat, tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur bagian utara, baratdaya dan tenggara; Maluku bagian utara; Maluku Utara bagian barat; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di 1. Kabupaten Asahan, Sumatera Utara*, 2. Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan*, 3. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 4. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat,5. Kabupaten Merangin , Jambi, 6, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, 7. Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, 8. Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, 9. Kabupaten Kampar, Riau, 10.Kabupaten Nagan Raya, Aceh , 11. Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 12.Kabupaten  Luwu timur, Sulawesi Selatan, 13. Kabupaten Tuban Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 


1 .Kabupaten Asahan,  Provinsi Sumatera Utara
Satu buah rumah di Desa Mekarsari kecamatan Pulau Rakyat tertimbun longsor tetapi tidak menimbulkan korban jiwa tetapi menimbulkan korban luka yang kini sudah dalam perawatan.  

Sumber http://matatelinga.com/Berita-Sumut/Lepas-Azan-Shubuh-Gemuruh-Longsor-Timbun-Rumah-Nurbiati   
Jenis gerakan tanah diperkirakan longsoran. Penyebab gerakan tanah antara lain kelerengan yang curam, intensitas curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama menjadi pemicu gerakan tanah.

Rekomendasi: 
• Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana dan pengguna jalan lebih waspada, karena daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor.

• Tidak melakukan pemotongan lereng secara sembarangan atau terlalu terjal

• Tidak melakukan penebangan pohon/hutan serta memelihara vegetasi sebagai penahan material longsoran.

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah. 

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.


2. Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan
Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan tanah di sepanjang aliran sungai Rupit tepatnya di RT 11 kawasan KBM Kelurahan Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ambles dan longsor. Akibatnya saat ini puluhan  rumah terancam amblas masuk kedalam Sungai Rupit.

Sumber : http://sumsel.tribunnews.com/2017/05/16/puluhan-rumah-ini-nyaris-terjun-ke-sungai-akibat-longsor 
Jenis gerakan tanah diduga berupa longsoran akibat erosi Sungai Rupit. Tebing Sungai yang tererosi menjadi penyebab longsoran tebing sungai. Hujan deras dengan durasi yang cukup lama dan endapan sungai yang lepas kemudian teresosi menjadi penyebab longsoran tebing Sungai.

Rekomendasi :
• Memulai menata kawasan sepadan sungai sebagai antisipasi longsoran atau banjir dimasa yang akan datang

• Masyarakat yang tinggal di sepadan Sungai Rupit Harap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi longsoran dan amblesan akibat erosi sungai.

• Membuat dinding atau tembok penahan erosi Sungai

• Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

• Agar memasang rambu-rambu rawan longsor sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah. 

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

 

Salam hormat

Ego Syahrial

 

<kembali>