Badan Geologi Bantu Kembangkan Sumber Daya Warisan Geologi Di Pulau Flores Untuk Menjadi Kawasan Warisan Dunia

Badan Geologi Bantu Kembangkan Sumber Daya Warisan Geologi

di Pulau Flores untuk menjadi Kawasan Warisan Dunia

 

Pulau Flores terkenal akan keindahan pantainya dan deretan pegunungan yang menyajikan panorama bentang alam yang menakjubkan. Labuan Bajo, Pulau Komodo, Riung dan Gunung Kelimutu adalah beberapa contoh destinasi wisata utama di pulau ini. Selain keunggulan alamnya, daratan Flores juga merekam jejak kehidupan masa lampau yang penting untuk dipahami dan dipelajari. Posisinya yang terletak di sebelah timur garis Wallace dan selama kurun waktu geologi selalu terisolir karena tidak pernah terhubung dengan Paparan Sunda maupun Paparan Sahul, menjadikan Flores memiliki keunikan fauna tersendiri, dimana binatang vertebrata yang hidup adalah binatang endemik khas kepulauan. Adanya artefak dan penemuan fosil manusia purba baru – baru ini juga memperjelas potret kehidupan prasejarah di Pulau Flores.

Bukti kehidupan masa lampau di Flores dapat dijumpai di Cekungan So’a, sebuah lembah savana yang dikelilingi beberapa gunung api, dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Ngada dan Negekeo, Propinsi NTT. Sejak fosil pertama kali ditemukan pada tahun 1950an, para ahli melakukan survei dan penelitian secara kontinu. Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, Badan Geologi melakukan kajian geosains secara komprehensif dan multidisipliner, menjalin kolaborasi riset dengan University of Wollongong-Australia, untuk  meneliti kondisi geologi, evolusi fauna vertebrata dan mencari fosil manusia purba.

 

Warisan Geologi

Lahirnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2016 tentang Pedoman Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi sangat strategis dalam melindungi warisan geologi dan potensinya untuk pengembangan geopark. Dalam peraturan tersebut memberikan penjelasan mengenai definisi, kriteria, pelaporan dan tahapan proses penetapan suatu kawasan.  Keunikan obyek geologi seperti batuan, mineral, fosil atau lanskap merupakan parameter dasar dalam menilai kelayakan suatu daerah.

Cekungan So’a mempunyai keanekaragaman obyek geologi yang dapat dijadikan pondasi dalam membangun kawasan cagar alam geologi. Cekungan ini tersusun oleh perlapisan batuan vulkanik, endapan sungai dan endapan danau yang membentuk perbukitan bergelombang. Dari puncak- puncak bukit, dapat diamati keelokan bentang alam, dimana sungai – sungai berkelok dengan tebing tegak mirip dengan kenampakan “Grand Canyon’ di Amerika. Pemandangan indah gunung api aktif seperti G. Ebulobo, G. Inerie dan G. Inelika juga dapat dinikmati.

Kegiatan survei dan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Survei Geologi, Badan Geologi telah mengidentifikasi sekitar 16 lokasi fosil yang tersebar di wilayah seluas 200 km2. Penggalian (eskavasi) secara intensif dan sistematik telah mendapatkan ribuan fosil vertebrata dan alat batu (artefak). Fosil – fosil yang ditemukan antara lain fosil gajah (Stegodon), burung, tikus, katak, buaya, komodo dan kura – kura. Adapun artefak umumnya berupa alat bahan (core) dan alat serpih (flake). Dari beberapa lokasi fosil, situs Mata Menge yang merupakan lokasi penting karena penggalian pertama di Cekungan So’a dimulai dari situs ini. Di situs Mata Menge selain fosil vertebrata dan artefak, juga ditemukan fosil manusia purba antara lain berupa fosil gigi geraham, gigi susu, gigi taring dan tulang rahang.

Hasil penanggalan menunjukkan bahwa fosil manusia purba Mata Menge berumur sekitar 700 ribu tahun. Fosil manusia ini merupakan fosil manusia pertama yang ditemukan di Cekungan So’a dan merupakan fosil manusia purba tertua di daratan Flores. Para ahli paleoanthropologi menduga bahwa manusia Mata Menge merupakan nenek moyang dari manusia kerdil “hobbit” yang ditemukan di Gua Liang Bua, Manggarai. Kaitannya dengan ilmu pengetahuan, penemuan ini sangat signifikan dan turut berkontribusi dalam membuka kotak pandora mengenai evolusi dan penyebaran manusia purba di Asia Tenggara, terutama di Indonesia.

 

Pengembangan Cekungan So’a

Kelimpahan dan keanekaragaman fosil vertebrata, artefak, fosil manusia purba serta keindahan bentang alam merupakan warisan tak ternilai yang dimiliki oleh Cekungan So’a. Sumberdaya tersebut merupakan modal utama dan peluang besar bagi daerah So’a untuk dikembangkan sebagai suatu kawasan cagar alam geologi. Saat ini sudah dua kawasan cagar alam geologi di Indonesia tercatat dalam daftar jaringan internasional UNESCO (Global Geopark Network/GGN) yakni Pegunungan Karst Gunung Sewu dan Gunung Batur. Melihat potensinya, Cekungan So’a memiliki kesempatan untuk dikembangkan seperti kedua kawasan tersebut.

Selain itu, kondisi geologi dan jenis warisan Cekungan So’a apabila dicermati mirip dengan Sangiran (Jawa Tengah) dan Olduvai Gorge (Tanzania) dimana keduanya telah menyandang predikat sebagai “World Heritage”. Boleh dikatakan Cekungan So’a adalah “Sangiran-nya” Indonesia Timur sehingga diperlukan perencanaan yang matang, perhatian dan dukungan dari berbagai pihak dalam rangka menuju kawasan konservasi dunia.

Situs -situs fosil yang telah dikenali dapat dijadikan sebagai geosite dengan keunikannya masing – masing. Upaya konservasi perlu diusahakan di setiap tempat untuk menjaga nilai keunikan yang ada. Selain Mata Menge, beberapa lokasi fosil lainnya antara lain Kobatuwa, Wolosege, Boa Leza, Tangi Talo, Ola Bula dan Malahuma. Mempertimbangkan keragaman warisan geologinya, Mata Menge dapat menjadi prioritas awal pengembangan Cekungan So’a. Tidak jauh dari situs tersebut terdapat pemandian air panas Mengeruda yang menjadi nilai tambah tersendiri.

Sebagai kawasan konservasi, Cekungan So’a dapat menambah daftar tujuan wisata utama di Pulau Flores. Selain menyuguhkan wisata alam, kawasan So’a juga dapat menjadi lahan wisata pendidikan. Geosite–geosite yang tersebar dapat pula berfungsi sebagai laboratorium alam untuk kepentingan pendidikan maupun penelitian. Konsep eco-museum dapat diterapkan pada kawasan ini dan site museum dapat dibangun di beberapa lokasi sebagai sarana penyediaan informasi bagi masyarakat mengenai sumberdaya dan sejarah alam Cekungan So’a. Dalam segi keterjangkauan, daerah So’a sangat strategis karena sudah tersedia fasilitas lapangan udara. Posisinya yang terletak dibagian tengah pulau, kawasan So’a ini dapat berfungsi sebagai kota transit bagi para wisatawan yang ingin menjelajah keindahan alam Flores.

Pengembangan Cekungan So’a memerlukan komitmen, kerjasama dan kesamaan visi-misi diantara para pemangku kepentingan serta perlunya disusun peta jalan (road map) dan grand design tata ruang kawasan sehingga proses pengembangan Cekungan So’a dapat on the track, on target dan on schedule. Fungsi Cekungan So’a sebagai kawasan konservasi dan destinasi wisata diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, meningkatkan pendapatan asli daerah dan devisa negara. Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Indonesia bagian timur.

badangeologibantukembangkansumberdayawarisangeologidipulaufloresuntukmenjadikawasanwarisandunia

Keindahan bentang alam perbukitan di Cekungan So’a dengan latar belakang gunungapi aktif

(G. Ebulobo) dan deretan gunungapi purba.

badangeologibantukembangkansumberdayawarisangeologidipulaufloresuntukmenjadikawasanwarisandunia1

Aliran sungai di Cekungan So’a  yang mengalir diantara tebing perlapisan bebatuan yang terjal, menyuguhkan pemandangan panorama alam yang elok dan eksotis.

badangeologibantukembangkansumberdayawarisangeologidipulaufloresuntukmenjadikawasanwarisandunia2

Temuan fosil vertebrata yang melimpah pada suatu lokasi penggalian dimana fosil – fosil tersebut terakumulasi secara in situ pada lapisan sedimen.

badangeologibantukembangkansumberdayawarisangeologidipulaufloresuntukmenjadikawasanwarisandunia3badangeologibantukembangkansumberdayawarisangeologidipulaufloresuntukmenjadikawasanwarisandunia4

Foil manusia purba yang ditemukan di situs Mata Menge, terdiri dari fosil gigi (kiri)

dan tulang rahang (kanan).

Oleh : Bidang Geosains, Pusat Survei Geologi 

 

<kembali>