Laporan Kebencanaan Geologi 08 Juli 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 8 Juli 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan ketinggian sekitar 150 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf pada 7 Juli 2018 tercatat:- 6  kali gempa Hembusan- 4  kali gempa Tektonik Jauh- 1  kali gempa Tornillo
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2018.  
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Tinggi kolom asap sekitar 1500 meter dari atas puncak kawah. Teramati letusan dengan tinggi 1500 meter dan warna asap kelabu. Teramati sinar api di puncak/bibir kawah.
Rekaman seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat :- 1  kali gempa Vulkanik Dangkal- 24 kali gempa Hembusan
Tanggal 8 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Letusan - 4 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Jauh Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai  potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Juli 2018 pukul 05:22 WITA, terkait erupsi adanya letusan dengan ketinggian kolom abu 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat Tinggi kolom asap tidak teramati.

G. Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, cuaca cerah dan visual gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat daya. Asap kawah utama tidak teramati. Rekaman seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat:- 126 kali gempa Letusan- 135 kali gempa Hembusan- 29  kali gempa Vulkanik Dangkal- 1   kali gempa Vulkanik Dalam- 2   kali gempa Tremor dengan amplitudo 4-6 mm

Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juli 2018 pukul 05:59 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 51 mm dengan durasi sekitar 45 detik. Ketinggian kolom letusan tidak teramati.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih intensitas tipis hingga tebal dengan tinggi sekitar 25 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat laut. 
Melalui rekaman seismograf pada 7 Juli 2018 tercatat:- 14 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 4  kali gempa Guguran- 1  kali Hembusan- 2  kali gempa Vulkanik Dangkal
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak.  Melalui seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat : - 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 4 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-4 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juli 2018 pukul 18:25 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah utara. 
Melalui seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat:- 61 kali gempa Letusan- 97 kali gempa Hembusan- 22 kali gempa Guguran- 4  kali gempa Tektonik Jauh Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Juli 2018 pukul 18:43 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juli 2018 yang dibandingkan bulan  Juni 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi  Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi  kejadian gerakan tanah .
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.  Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur2. Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara3. Kabupaten Tana Toraja,Provinsi Sulawesi Selatan
Penyebab: Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air serta dipicu curah hujan yang tinggi.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan material longsoran menutupi akses jalan  di Kota Samarinda ( Provinsi Kalimantan Timur); jalan penghubung beberapa kabupaten itu longsor sehingga menyebabkan kemacetan yang cukup panjang.di Kabupaten Konawe Selatan (Provinsi Sulawesi Tenggara);  jalan terputus, dan satu keluarga terpaksa mengungsi karena rumahnya terancam longsor di Kabupaten Tana Toraja (Provinsi Sulawesi Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Tenggara Kab. Lebak, Banten 
Informasi Gempa bumi:Telah terjadi serangkaian gempa bumi pada hari Sabtu, 7 Juli 2018 dengan pusat gempa bumi berlokasi di perbatasan tenggara Kabupaten Lebak, Banten dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Berdasarkan informasi dari BMKG, rangkaian gempa bumi tersebut, adalah sebagai berikut:(1) Terjadi pada pukul 10:53:52 WIB, dengan magnitudo 3,2 SR, berlokasi di koordinat 6,91° LS dan 106,46° BT, pada kedalaman 16 km;(2) Terjadi pada pukul 10:56:06 WIB, dengan magnitudo 4,4 SR, berlokasi di koordinat 6,91° LS dan 106,41° BT, pada kedalaman 5 km;(3) Terjadi pada pukul 11:01:15 WIB, dengan magnitudo 4,1 SR, berlokasi di koordinat 6,92° LS dan 106,40° BT, pada kedalaman 5 km;(4) Terjadi pada pukul 11:24:20 WIB, dengan magnitudo 2,5 SR, berlokasi di koordinat 6,94° LS dan 106,37° BT, pada kedalaman 14 km;(5) Terjadi pada pukul 12:18:22 WIB, dengan magnitudo 4,5 SR, berlokasi di koordinat 6,97° LS dan 106,35° BT, pada kedalaman 6 km;(6) Terjadi pada pukul 12:23:45 WIB, dengan magnitudo 4,6 SR, berlokasi di koordinat 6,98° LS dan 106,34° BT, pada kedalaman 6 km;
Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:Berdasarkan tatanan tektonik selatan Jawa  dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan pulau Jawa.Wilayah di sekitar pusat gempa bumi disusun oleh batuan vulkanik berumur Tersier hingga Kuarter, serta batuan sedimen berumur Tersier. Guncangan gempa bumi akan terasa lebih kuat pada batuan endapan kuarter dan batuan tersier terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek getaran.
Penyebab gempabumi:Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi ini berasosiasi dengan aktifitas sesar setempat  yang berorientasi relatif utara-selatan.
Dampak gempa bumi:Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena berpusat di darat. Berdasarkan informasi dari BMKG, intensitas maksimum guncangan dari rangkaian gempa bumi tersebut mencapai skala IV MMI yang dirasakan di Cikatomas, Panggarangan, Panimbang, Bayah (Banten), Pelabuhan Ratu, dan Cisolok (Sukabumi). Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada laporan kerusakan dan korban jiwa akibat rangkaian gempa bumi ini.
Rekomendasi:※ Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.※ Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan ketinggian sekitar 150 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf pada 7 Juli 2018 tercatat:- 6  kali gempa Hembusan- 4  kali gempa Tektonik Jauh- 1  kali gempa Tornillo
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Tinggi kolom asap sekitar 1500 meter dari atas puncak kawah. Teramati letusan dengan tinggi 1500 meter dan warna asap kelabu. Teramati sinar api di puncak/bibir kawah.
Rekaman seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat :- 1  kali gempa Vulkanik Dangkal- 24 kali gempa Hembusan
Tanggal 8 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Letusan - 4 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Anak Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Anak Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, cuaca cerah dan visual gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat daya. Asap kawah utama tidak teramati. Rekaman seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat:- 126 kali gempa Letusan- 135 kali gempa Hembusan- 29  kali gempa Vulkanik Dangkal- 1   kali gempa Vulkanik Dalam- 2   kali gempa Tremor dengan amplitudo 4-6 mm
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih intensitas tipis hingga tebal dengan tinggi sekitar 25 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat laut. 
Melalui rekaman seismograf pada 7 Juli 2018 tercatat:- 14 kali gempa Hybrid/Fase Banyak- 4  kali gempa Guguran- 1  kali Hembusan- 2  kali gempa Vulkanik Dangkal
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak.  Melalui seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat : - 1 kali Gempa Letusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal- 4 kali Gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-4 mm (dominan 2 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah utara. 
Melalui seismograf tanggal 7 Juli 2018 tercatat:- 61 kali gempa Letusan- 97 kali gempa Hembusan- 22 kali gempa Guguran- 4  kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Juli 2018 pukul 05:22 WITA, terkait erupsi adanya letusan dengan ketinggian kolom abu 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat Tinggi kolom asap tidak teramati.
(3) G. Anak Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juli 2018 pukul 05:59 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 51 mm dengan durasi sekitar 45 detik. Ketinggian kolom letusan tidak teramati.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juli 2018 pukul 18:25 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Juli 2018 pukul 18:43 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Juli 2018 yang dibandingkan bulan Juni 2018  akan  cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.  Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur*, 2. Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara*, 3. Kabupaten Tana Toraja,Provinsi Sulawesi Selatan*,4.Kabupaten Paniai, Provinsi Papua, 5.Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 6.Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, 7. Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, 8.Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, 9.Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, 10.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 11. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, 12. Kota Palopo,Provinsi Sulawesi Selatan, 13. Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kota Samarinda , Provinsi Kalimantan Timur
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di Jalan Subulus Salam Gang Gunung Sari 2 RT 35 , Samarinda Ilir, Kamis (07/05/2018) 07.30 WITA, mengakibatkan material longsoran menutupi akses jalan. Walaupun tidak memakan korban jiwa, namun kejadian longsor yang terjadi untuk ketigakalinya di kawasan ini membuat warga khawatir terjadinya longsor lanjutan yang lebih parah. Longsor susulan terakhir ini lebih besar jika dibanding longsor sebelumnya, karena kali ini hingga menutupi akses jalan.
Sumber : https://www.bontangpost.id/2018/07/06/43314/warga-samarinda-ilir-diterpa-longsor/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

2. Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara
Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di jalan Lintas Kendari-Andoolo yang terletak di Desa Anduna Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), tepatnya di Gunung Abari. Akibatnya, jalan penghubung beberapa kabupaten itu longsor sehingga menyebabkan kemacetan yang cukup panjang.
Sumber: https://mediakendari.com/2018/07/05/longsor-di-gunung-abari-penyebab-kemacetan-panjang-poros-kendari-andoolo/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat Kelerengan , tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi.

3. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah / Longsor terjadi di Lembang Lemo Menduruk, kecamatan Malimbong Balepe’, Tana Toraja, pada Kamis, 5 Juli 2018. Tanah longsor tersebut mengakibatkan jalan desa yang menghubungkan antara kecamatan dan lembang tetangga, terputus, karena tertimbun material longsor. Selain itu, satu keluarga terpaksa mengungsi karena rumahnya terancam longsor. Selain rumah milik keluarga Marten, satu unit Tongkonan dan lumbung padi milik Laso’ Leppan, juga terancam ambruk terbawa material longsor.
Sumber : https://www.karebatoraja.com/longsor-di-malimbong-tongkonan-dan-lumbung-terancam-ambruk-jalan-desa-tertutup/
Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat Kelerengan, tanah  pelapukan yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi :
• Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana khususnya pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta  menata aliran air permukaan pada jalan penghubung tersebut.
• Area longsoran segera dibersihkan dan rumah diperbaiki dan diberi perkuatan tebing penahan lereng dengan  fondasi mencapai tanah yang keras.
• Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.




Bandung, 8 Juli 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI, KESDM


Kasbani


Berita Terkini