Laporan Kebencanaan Geologi 14 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 14 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 100-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratdaya dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 22 kali Gempa Vulkanik Dalam
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 13 Maret 2018 tercatat:- 6 kali Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 14 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 00:20 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 23:20 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan lemah teramati 400-500 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 13 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-26 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 07:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu berwarna putih kelabu tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 13 Maret 2018 tercatat:- 127 kali Gempa Letusan- 116 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta2.Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat 3.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  lima unit pemukiman yang dihuni lima kepala keluarga (KK) di Pedukuhan Karanggede, Desa Jatimulyo terancam di Kabupaten Kulonprogo (Provinsi DI Yogyakarta); tujuh rumah warga rusak, sebagian bangunannya terbawa tanah longsor, 15 rumah warga lainnya terancam, Jembatan/ jalan penghubung Kampung Ciangasa dan Sukamulya RT 17/06 dan satu rumah terendam, satu rumah milik Idar ambruk dan 12 rumah lainnya terancam. dua rumah rusak rumah rusak dan area kebun serta sawahan milik Hamim tertimbun tanah di Kabupaten Subang, Jawa Barat; material longsoran menimbun jalan dan 1 unit tiang listrik tumbang di Kabupaten Toraja Utara (Provinsi Sulawesi Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Tapanuli Utara, Sumatera Utara
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 13 Maret 2018, pukul 11:33 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,94° BT dan 1,95° LU, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 171 km, berjarak 20 km baratdaya Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 98,92° BT dan 1,94° LU, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 127 km.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Zona Benioff yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Guncangan gempa bumi tidak dirasakan di Pos Pengamatan G. Sinabung dan G. Sorik Marapi, namun terekam pada alat pencatat gempa (intensitas guncangan I MMI). Menurut BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Singkil dengan intensitas II MMI. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu* G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 100-300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratdaya dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 13 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 10 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 22 kali Gempa Vulkanik Dalam
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 13 Maret 2018 tercatat:- 6 kali Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 1 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 14 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan lemah teramati 400-500 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 13 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-26 mm (dominan 2 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu berwarna putih kelabu tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 13 Maret 2018 tercatat:- 127 kali Gempa Letusan- 116 kali Gempa Hembusan- 41 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 00:20 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 23:20 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 07:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta*, 2.Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat*, 3.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan*, 4.Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 5.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, 6.Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, 7.Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, 8.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, 9.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, 10.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, 11.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, 12. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatra Selatan, 13.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 14.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 15.Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 16.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, 17.Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, 18.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, 19.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, 20.Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, 21.Buleleng, Provinsi Bali, 20.Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 22.Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, 23. Kota Jayapura, Provinsi Papua, 24.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 25.Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, 26.Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 27.Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, 28.Kabupaten Buleleng, Bali, 29.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 30. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, 31. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, 32. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta
Hujan deras kembali mengguyur pada Senin malam hingga tanah kembali longsor dengan panjang rekahan 50 meter dan lebar 30 meter serta ketinggian 25 meter. Longsor ini diketahui merupakan susulan dari kejadian sebelumnya pada 7 Maret.  Kejadian tanah longsor kembali terjadi di Girimulyo, Senin (12/3//2018) malam. Dampak gerakan tanah lima unit pemukiman yang dihuni lima kepala keluarga (KK) di Pedukuhan Karanggede, Desa Jatimulyo terancam.
Sumber berita: http://jogja.tribunnews.com/2018/03/13/tanah-longsor-di-jatimulyo-kulonprogo-ancam-lima-keluarga
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang material longsorannya menimbun jalan desa dan mengancam pemukiman. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi.

2. Kabupaten Subang, Jawa Barat
Bencana tanah longsor terjadi di 4 titik di 2 kecamatan: Kecamatan Cijambe longsor terjadi di Kampung Balenyengked, Desa Tanjungwangi, Kampung Ciangasa dan Kampung Cikahuripan, Desa Sukahurip dan 1 titik lokasi di Kecamatan Subang yaitu Kampung Parung Hilir, Kelurahan Parung Minggu (11/3) malam. Dampaknya, gerakan tanah di Kampung Balenyengked Desa Tanjungwangi Kecamatan Cijambe mengakibatkan tujuh rumah warga rusak, sebagian bangunannya terbawa tanah longsor. Selain itu sedikitnya ada 15 rumah warga lainnya terancam, dikhawatirkan terkena longsor. Di Desa Sukahurip, Kecamatan Cijambe, menyebabkan Jembatan/ jalan penghubung Kampung Ciangasa dan Sukamulya RT 17/06 dan satu rumah terendam akibat aliran air tersumbat hingga meluap dari jembatan rumah milik Cahdi (60th). DI Kampung Cikahuripan RT 01/01 dan Tanjung RT 02/01, Desa Sukahurip, satu rumah milik Idar ambruk dan 12 rumah lainnya terancam. Sementara di Kampung Parung Hilir RT 16/06 Kelurahan Parung, Kecamatan Subang berdampak rumah Sardi (78) bagian dapur dan kamar mandi tergerus, rumah Udi bagian samping rumah tertimbun tanah, dan area kebun dan sawahan milik Hamim tertimbun tanah.
Sumber berita: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2018/03/13/longsor-dan-pegerakan-tanah-terjadi-di-4-titik-di-subang-421186
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa rumah dan jalan (Kecamatan Cijambe dan Kecamatan Subang). Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

3. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Kapalapitu, Toraja Utara menyebabkan gerakan tanah di Lembang Sikuku, Selasa 13 Maret 2018 pagi. Dampak longsor menngakibatkan material longsoran menimbun jalan dan 1 unit tiang listrik tumbang.  
Sumber berita: https://daerah.sindonews.com/read/1289359/174/akses-jalan-terputus-petugas-gabungan-evakuasi-material-longsor-1520936852
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.
*Rekomendasi: 
• Material longsoran yang menutup badan jalan agar segera dibersihkan dan selalu waspada terhadap potensi adanya longsor susulan;
• Pemilik rumah yang terancam longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
• Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
• Material longsoran yang menutup badan jalan (Kampung Ciangasa) agar segera dibersihkan dan selalu waspada terhadap potensi adanya longsor susulan;
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
• Menata saluran air permukaan dan segera menutup retakan dengan saluran kedap air supaya tidak masuk ke retakan tersebut;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.




Medan, 14 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini