Laporan Kebencanaan Geologi 13 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:
Hari ini, Selasa 13 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 12 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 12 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 19 kali Gempa Vulkanik Dalam
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 12 Maret 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tremor Harmonik- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 13 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 00:20 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 23:20 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 200-300 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 12 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-24 mm (dominan 4 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 07:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu berwarna putih kelabu tipis hingga tebal tekanan lemah hingga sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 12 Maret 2018 tercatat:- 113 kali Gempa Letusan- 101 kali Gempa Hembusan- 40 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah2. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah3. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan4. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah5. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan6. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah7. Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur8. Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur9. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatra Selatan
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang baik serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan enam rumah warga terkena longsor di Kabupaten Semarang (Provinsi Jawa Tengah); dua rumah warga rusak dan sebagian material longsorannya menimbuni badan jalan antardusun di Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah); Jalan  penghubung antar tiga kecamatan di Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat sempat tertutup longsor di Kabupaten Luwu (Provinsi Sulawesi Selatan); akses jalan Sondokoro-Nglarangan terputus di Kabupaten Karanganyar (Provinsi Jawa Tengah);tiang listrik dan pohon tumbang menimpa 2 buah rumah satu garasi dan kandang ternak babi milik warga di Kabupaten Toraja Utara (Provinsi Sulawesi Selatan); emperan rumah warga dan mengancam tiga rumah warga tertimpa longsor  di Kabupaten Cilacap (Provinsi Jawa Tengah); kedua rumah roboh di bagian dapur di Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur); sebuah rumah rusak berat  di Kota Tasikmalaya (Provinsi Jawa Barat); badan jalan  amblas di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan (Provinsi Sumatra Selatan)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu* G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga tebal tekanan lemah setinggi 300 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 12 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak- 12 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 19 kali Gempa Vulkanik Dalam
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 12 Maret 2018 tercatat:- 5 kali Gempa Hembusan- 2 kali Gempa Tremor Harmonik- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam- 3 kali Gempa Tektonik Lokal
Tanggal 13 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 2 kali Gempa Vulkanik Dalam

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 200-300 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 12 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-24 mm (dominan 4 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu berwarna putih kelabu tipis hingga tebal tekanan lemah hingga sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke selatan dan barat. Melalui seismograf tanggal 12 Maret 2018 tercatat:- 113 kali Gempa Letusan- 101 kali Gempa Hembusan- 40 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 00:20 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 23:20 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3942 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, angin bertiup ke timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Maret 2018 pukul 07:06 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1.Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah*, 2.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah*, 3.Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan*, 4.Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah*, 5.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan*, 6.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah*, 7.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur*, 8.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur*, 9. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatra Selatan*, 10.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 11.Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, 12.Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, 13.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, 14.Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, 15.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, 16.Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, 17.Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, 18.Buleleng, Provinsi Bali, 19.Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, 20.Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, 21. Kota Jayapura, Provinsi Papua, 22.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 23.Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, 24.Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 28.Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, 29.Kabupaten Buleleng, Bali, 30.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 31. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, 32. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, 33. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, 34. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat), 35. Kota Yogyakarta, Provinsi D.I. Yogyakarta, 36.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 37.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, 38.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 39.Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat, 40.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras yang mengguyur dalam tiga hari terakhir mengakibatkan Jalan Kampung Kintelan, Gajahmungkur, setinggi empat meter longsor dan menimpa sejumlah rumah warga. Senin (12/3/2018), warga bahu membahu memindahkan material tanah longsor yang melanda enam rumah warga. Bahkan, bagian samping teras rumah salah satu warga ambruk karena terkena longsor. Selain itu, material longsoran juga mengakibatkan tersumbatnya saluran air yang membuat rumah warga tergenang banjir. 
Sumber berita: http://news.liputan6.com/read/3366850/longsor-di-semarang-jalan-penghubung-antar-kecamatan-putus
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa rumah. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

2.Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
Bencana tanah longsor, Senin (12/3) pukul 01.00 dinihari, melanda dua dusun di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto (70 Kilometer arah timur laut Kota Wonogiri). Yakni di Dusun Sobo RT 2/RW 7 dan di Dusun Ngrembah RT 2/RW 6. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tanah longsor di dua dusun tersebut. Tapi dua rumah warga rusak, dan sebagian material longsorannya menimbuni badan jalan antardusun. Bencana tanah longsor tersebut dipicu oleh melorotnya sisi tebing Dusun Sobo setinggi 7 Meter dengan lebar 5 Meter. Dampaknya, merusak dua rumah warga dan sebagian menimbuni badan jalan.
Sumber berita: http://www.suaramerdeka.com/news/detail/19073/Bencana-Tanah-Longsor-Landa-Dua-Dusun-di-Wonogiri
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa rumah dan jalan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

3.Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan
Jalan  penghubung antar tiga kecamatan di Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sempat tertutup longsor, Minggu (11/3/2018). Warga yang melintas di jalan tersebut terpaksa harus gotong royong membersihkan material longsor agar jalan bisa mereka lalui. Jalan ini menghubungkan tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bajo Barat, Kecamatan Latimojong dan Kecamatan Basse Sangtempe (Bastem). Longsor ini juga diakibatkan tingginya intesitas hujan di wilayah Kabupaten Luwu. Material longsor pun juga sampai saat ini masih berjatuhan dan berpotensi terjadi longsor susulan. 
Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2018/03/12/jalan-penghubung-tiga-kecamatan-di-luwu-longsor
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa jalan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

4.Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras yang mengguyur wilayah Solo Raya, Minggu (11/3/2018) malam menyebabkan terjadinya longsor di Dusun Kaling, Desa Kaling, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. Longsor tersebut terjadi pada jalan di Dusung Kaling yang membuat akses jalan Sondokoro-Nglarangan terputus. 
Sumber: http://solo.tribunnews.com/2018/03/12/jalan-di-dusun-kaling-tasikmadu-karanganyar-lonsor-akses-jalan-terputus
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa jalan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

5.Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan
Hujan deras yang mengguyur wilayah kecamatan Nanggala, Toraja Utara di sekitarnya pada Minggu sore, 11 Maret 2018, mengakibatkan tanah longsor di Sarambu, Lembang Rante. Selain membawa material tanah, bebatuan, dan pohon, tanah longsor juga membuat tiang listrik milik PLN, tumbang dan menimpa rumah milik Gideon Sara alias Papa Gian, warga setempat. Sedangkan pohon yang tumbang akibat tanah longsor menimpa kandang ternak dan nyaris menyentuh rumah milik Papa Eki. Gideon, saksi mata, menyebutkan tanah longsor di Sarambu ini terjadi sekitar pukul 17.00 Wita. Akibat tumbangnya tiang listrik ini, aliran listrik ke hampir semua lembang di kecamatan Nanggala, mati total selama satu malam. Tak ada korban jiwa namun tiang listrik dan pohon tumbang menimpa 2 buah rumah satu garasi dan kandang ternak babi milik warga. Kondisi tiang listrik yang roboh hingga kini masih melintang di jalan dengan kabelnya. Hal ini dikhwatirkan masyarakat sangat berbahaya dan menimbulkan trauma bagi warga yang melintas khusunya banyak anak sekolah yang melewati jalan tersebut.
Sumber berita: https://www.karebatoraja.com/longsor-tiang-listrik-timpa-rumah-warga-di-nanggala/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

6.Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras dengan intensitas lama yang terjadi pada Sabtu (10/3) sore hingga malam. Imbasnya, tebing tanah setinggi enam meter di Desa Karangsari, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, longsor. Kepala Desa Karangsari Turijo mengatakan longsor terjadi sekira pukul 18.00 WIB dengan ketebalan material longsoran 2 meter. Longsor menimpa emperan rumah warga dan mengancam tiga rumah warga di Dusun Duku Petir RT 01 RW 06 Desa Karangsari Kecamatan Cimanggu. Longsor tidak sampai menimpa rumah hanya emperan saja,tidak ada korban jiwa namun tiga rumah warga terancam.
Sumber berita: https://satelitpost.com/regional/tebing-6-meter-di-cimanggu-longsor
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah pada tebing. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

7.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur
Longsor dan angin kencang merobohkan tiga rumah di Magetan. Dua rumah yang roboh akibat tanah longsor terjadi di Desa Ngonggang Kecamatan Poncol. Dan satu rumah roboh akibat angin kencang terjadi di Desa/kecamatan Ngariboyo. Dua rumah yang tertimpa longsor di Desa Gonggang Kecamatan Poncol yakni rumah milik Sarno (50) di RT 38/04 Dusun Templek. Rumah kedua milik Samsuri (40) di RT 09/02 Dudun Kopen, kedua rumah roboh di bagian dapur akibat longsor karena hujan deras yang mengguyur desa Gonggang hampir semalaman. 
Sumber berita: https://news.detik.com/jawatimur/3912687/bencana-tanah-longsor-dan-angin-kencang-di-magetan-3-rumah-roboh
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah pada tebing yang materialnya menimpa rumah. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

8.Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
Hujan lebat yang melanda kota Tasikmalaya mengakibatkan sebuah rumah pasangan jompo Koko (68) dan Diah (62) warga Kampung Sukabakti, Kelurahan Sungkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, mengalami longsor pada pukul 21.00, Minggu (11/3/2018) kemarin. Akibatnya sebagian rumahnya yang berada di bibir tebing tersebut amblas ke jurang berkedalaman sekitar 30 meter. Beruntung, saat kejadian penghuni rumah sudah mengungsi ke rumah anaknya yang tidak jauh dari lokasi. Ikin (62) yang merupakan tetangga sekaligus adik dari Koko mengatakan, saat kejadian ia mendengar suara gemuruh. Saat longsor terjadi terasa getaran dan ada suara gemuruh, kemudian saya melihat ke luar ternyata rumah kakak saya bagian belakangnya terbawa longsor.
Sumber berita: http://jabar.tribunnews.com/2018/03/12/dengar-suara-gemuruh-ikin-kaget-ternyata-rumah-kakaknya-tergerus-longsor
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah pada tebing yang materialnya menimpa rumah. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

9.Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatra Selatan
Curah hujan tinggi belakangan ini mengakibatkan bencana longsor di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan terus terjadi. Bencana yang disebabkan oleh guyuran hujan terjadi lebat, bencana longsor terjadi mulai dari pemukiman warga hingga badan jalan yang amblas terkena longsor sehingga mengganggu pengguna jalan. Belum lama ini longsor yang diketahui warga pada Minggu (11/3/2018) yang mengganggu pengguna jalan, tepatnya di Desa Sukaraja Kecamatan Mekakau Ilir Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Longsor yang terjadi badan jalan hanya menyisahkan beberapa meter saja, dengan kedalaman mencapai puluhan meter. Akibatnya kendaraan roda empat tidak sama sekali tidak dapat melintas di badan jalan yang amblas dampak dari longsor itu.
Sumber: http://palembang.tribunnews.com/2018/03/12/bencana-longsor-terpa-kabupaten-oku-selatan-kendaraan-roda-empat-tak-bisa-melintas
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa jalan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.
*Rekomendasi: 
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut; 
• Material longsoran yang menutup badan jalan agar segera dibersihkan dan selalu waspada terhadap potensi adanya longsor susulan;
• Masyarakat yang beraktivitas dan melalui jalan ini dihimbau untuk lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;
• Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama; 
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.



Bandung, 13 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini