Laporan Kebencanaan Geologi 08 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 08 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah teramati 50 m – 200 m. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 07 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Low-frequency- 64 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal - 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah di  kawah puncak teramati 50-400 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- 9 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 10 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa terasa dengan Mag 3.4 SR- 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 08 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan-  3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 200-300 m. Angin ke arah barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- Gempa Letusan 1 kali- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Maret 2018 pukul 08:28 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- 131 kali Gempa Letusan- 119 kali Gempa Hembusan- 37 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat;
2.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah;
3.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur;
4.Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan saluran irigasi jebol dan merendam areal persawahan seluas tiga hektare,  akses  jalan raya provinsi terganggu yang menghubungkan Sukabumi-Sagaranten serta 4 rumah warga rusak di Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat), akses lalu lintas terganggu di Kabupaten Boyolali (Provinsi Jawa Tengah) dan di Kabupaten Trenggalek (Provinsi Jawa Timur), akses lalulintas terganggu dan  merusak areal persawahan, peternakn telur dan irigasi  di Kabupaten 50 Kota (Provinsi Sumatera Barat)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi  sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah puncak putih tebal tekanan sedang teramati 50 m. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 07 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Low-frequency- 64 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal - 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah teramati 50-400 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur. Rekaman seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- 9 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 10 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa terasa dengan Mag 3.4 SR- 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 08 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan-  3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih tebal tekanan sedang teramati 200-300 m dari puncak. Angin ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- Gempa Letusan 1 kali- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- 131 kali Gempa Letusan- 119 kali Gempa Hembusan- 37 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Maret 2018 pukul 08:28 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi  sering tertutup kabut. Tinggi asap kawah puncak putih tebal tekanan sedang teramati 50 m. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 07 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Fase Banyak- 1 kali Gempa Low-frequency- 64 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa Tektonik Lokal - 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah teramati 50-400 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur. Rekaman seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- 9 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 10 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali gempa terasa dengan Mag 3.4 SR- 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 08 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 10 kali Gempa Hembusan-  3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih tebal tekanan sedang teramati 200-300 m dari puncak. Angin ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- Gempa Letusan 1 kali- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom hembusan/letusan abu putih kelabu tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Kolom abu condong ke barat dan selatan. Melalui seismograf tanggal 07 Maret 2018 tercatat:- 131 kali Gempa Letusan- 119 kali Gempa Hembusan- 37 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Maret 2018 pukul 08:28 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*, 2.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah*, 3.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur*, 4.Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat*, 5.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 6.Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, 7.Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I.Yogyakarta,  8.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 9.Kabupaten Wonogiri, Provinsi D.I.Yogyakarta, 10.Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, 11. Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat,  12.Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 13. Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan , 14. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, 15. Kabupaten Pidie, Provinsi  Aceh,  16.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, 17. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 18. Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, 19. Kabupaten Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, 20. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, 21. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 22. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, 23. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, 24. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, 25. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 26. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, 27. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, 28.Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Bencana longsor dan banjir bandang menerjang Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Selasa (6/3) sore. Dampaknya, sekitar tiga hektare areal persawahan di wilayah itu terendam banjir dan sejumlah rumah warga terdampak akibat longsor. Data dari relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, bencana ini terjadi di sejumlah kampung di Desa Wangunreja yakni Kampung Cicurug RT 02 RW 10 dan Kampung Ciseupan RT 03 RW 09. Longsor di dua kampung ini dilaporkan berdampak pada empat unit rumah,. Longsor disertai banjir bandang ini menyebabkan saluran irigasi jebol dan merendam areal persawahan seluas tiga hektare. Selain itu bencana juga berdampak pada jalan raya provinsi yang menghubungkan Sukabumi-Sagaranten di Kampung Kubengan RT 01 RW 05 Kecamatan Nyalindung.
Sumber  : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/07/p573dr409-longsor-dan-banjir-bandang-terjang-nyalindung-sukabumi
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2.Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
Hujan lebat yang terjadi di Dukuh Rejosari, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Boyolali sejak Selasa (6/3) mengakibatkan tebing setinggi 10 meter longsor. Akibatnya, material longsor menutup akses jalan alternatif dari Cepogo menuju Ampel, Boyolali. Lalulintas lumpuh karena kejadian itu. Padahal jalur tersebut kerap dilalui banyak kendaraan karena merupakan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan. Tak hanya menutup akses jalan, longsor juga membuat mobilitas warga di sekitar lereng Gunung Merbabu terganggu.
Sumber  : https://news.trubus.id/post/jalan-cepogo-hingga-ampel-di-boyolali-lumpuh-total-ini-penyebabnya-7900
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
3.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.
Tanah Longsor Di Rt/Rw : 21/06 Dsn. Pakel Ds. Dompyong Kecamatan Bendungan Menimpa Jalan Dan 1 Rumah Warga. Pak Toni Purnomo Perhutani KPH Kediri. Mengabarkan telah terjadi bencana alam tanah longsor di area tanah pemajekan di Dusun Pakel, Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek. Jarak dari kawasan hutan sekitar 300 meter, korban jiwa nihil.Material longsoran tanah menutupi akses jalan Desa Dopyong menuju Desa Boto Putih. Rencananya besuk pagi bersama Muspika Kecamatan Bendungan, Perhutani BKPH Trenggalek KPH Kediri dan masyarakat sekitar mengadakan kerja bakti membersihkan material longsoran untuk membuka akses jalan. Hujan wilayah Trenggalek sekitarnya mulai siang tadi intensitas tinggi. Sementara agar jalan bisa di lewati khususnya sepeda motor dengan bersama masyarakat sedikit membersihkan longsoran.
Sumber : https://twitter.com/BpbdTrenggalek/status/971307128777568261/photo/1Sumber : fb.me/3YhQG0Fbn 
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

4.Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat
Curah hujan tinggi melanda Kabupaten 50 Kota menyebabkan terjadinya, bencana longsor. Longsor terjadi di  Jorong Tanjuang Siamantuang, Nagari Situjuang Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Selasa 6 Maret 2018 sekitar pukul 19.00 WIB.
Dari informasi yang dihimpun Kabarnagari.com, hingga pukul 02.00 WIB dini hari, sejumlah personil turun kelokasi dalam membersihkan material longsor, yang menutupi ruas jalan yang ada disana. Selain menutupi jalan, longsor juga merusak areal persawahan milik warga. Akibat dari peristiwa ini, sebuah pertenakan telur milik warga, saluran irigasi, rusak. Longsor ini meliputi dua kecamatan. Dari data BPBD Kabupaten 50 Kota, kadang ayam dan saluran irigasi mengalami rusak berat.
Sumber  : http://www.beritaranahminang.tk/2018/03/longsor-di-50-kota-akses-jalan-tertutup.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
*Rekomendasi: 

• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan;
• Melandaikan lereng, menata drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing bagian atas;
• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Pemakai jalan untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor;
• Apabila terdapat retakan agar segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan;
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.



Bandung, 07 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini