Laporan Kebencanaan Geologi 03 Maret 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu 03 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah teramati berwarna putih kelabu 50-500 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 02 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Guguran- 6 kali Gempa Low-frequency- 3 kali Gempa Tornilo- 90 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (tidak terasa).- 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Dari kemarin sampai pagi ini tidak tercatat adanya lahar.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah di  kawah puncak teramati 100-200 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 02 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 03 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. - Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan/letusan tidak teramati. Angin ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 02 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-14 mm (dominan 2 mm).- Gempa Tektonik Jauh 2 kali.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan tidak teramati. Arah angin condong ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 02 Maret 2018 tercatat:- 88 kali Gempa Letusan- 74 kali Gempa Hembusan- 29 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah 25 m. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 02 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 2 kali Gempa Fase Banyak- 2 kali Gempa Tektonik Jauh.
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA:Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Januari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat2. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah3. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat4. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara5. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat6. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat7. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara8. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat9. Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah
Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi  akibatnya air melimpas ke jalan,  serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  enam rumah dan jalan  tertimbun material longsor, di  Kabupaten Agam (Provinsi Sumatra Barat) ; satu rumah dan jalan tertimbun longsor di Kabupaten Semarang (Provinsi Jawa Tengah); akses lalu lintas terhambat di  Kabupaten Minahasa , (Provinsi Sulawesi Utara) di  Kabupaten Bandung (Provinsi Jawa Barat), di Kabupaten Minahasa Tenggara (Provinsi Sulawesi Utara) dan  di Kabupaten Purwakarta (Provinsi Jawa Barat); satu rumah hancur rata dengan tanah  di Kabupaten Kuningan (Provinsi Jawa Barat); tiga rumah rusak berat dan warga diungsikan di Kabupaten Rembang (Provinsi Jawa Tengah)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
 
1) Gempa bumi di BaratLaut Maluku Tenggara Barat, Maluku
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 2  Maret 2018, pukul 09:20:11 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 6.31°LS dan 130.43°BT, dengan magnitudo 6,1 SR pada kedalaman 166 km, berjarak 170 km BaratLaut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi.
Dampak gempabumi:Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban.Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.


2).Gempa bumi di Baratdaya Nias Barat, Sumatera Utara
Informasi gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 3 Maret 2018 pukul 04:03:41 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  0,25°LS dan 96,64°BT (168 km sebelah Baratdaya Nias Barat, Sumut), dengan magnitudo 5,5 SR pada kedalaman 13 km. Berdasarkan informasi dari USGS, Amerika Serikat, pusat gempa bumi berada pada koordinat  0,25°LS dan 96,71°BT sebesar M 5,2 pada kedalaman 26,6 km. Dan informasi dari GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,21°LS dan 96,71oBT, dengan magnitudo 5,6 dan kedalaman 10 km.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi yang terjadi akibat proses penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi:Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api); 
c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap kawah berwarna putih kelabu 50-500 m di atas puncak. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratlaut, barat, dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf pada 02 Maret 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Guguran- 6 kali Gempa Low Frequency- 3 kali Gempa Tornilo- 90 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (tidak terasa)- 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Dari kemarin sampai pagi ini tidak tercatat adanya lahar.
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah teramati 100-200 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 02 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tudak terasa)- 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Tanggal 03 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 4 kali Gempa Hembusan- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)- 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(tidak terasa)- 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan/letusan tidak teramati. Angin ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 02 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-14 mm (dominan 2 mm).- Gempa Tektonik Jauh 2 kali.
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan tidak teramati. Angin ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 02 Maret 2018 tercatat:- 88 kali Gempa Letusan- 74 kali Gempa Hembusan- 29 kali Gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke timur.Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah 25 m dari puncak. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 02 Maret 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- 1 kali Gempa Fase Banyak- 2 kali Gempa Tektonik Lokal.- 2 kali Gempa Tektonik Jauh.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
(2) G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
(3) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
(4) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 09 Oktober 2017 Pukul 09:26 WIT, terkait tinggi hembusan asap putih topis tekanan lemah 1923 dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Hembusan condong ke arah barat.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 
1. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat*, 2. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah*, 3. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat*, 4. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara*, 5. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat*, 6. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat*, 7. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara*, 8. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat*, 9.Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah*, 10. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,  11. Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, 12. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 13. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan, 14. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 15.Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 16.Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,. 17.Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, 18. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, 19. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur,  20.Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 21.Kabupaten Kota Semarang,  Provinsi Jawa Barat, 22. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, 23.Kabupaten Temanggung , Provinsi Jawa Tengah, 24.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat
Longsor terjadi di di Kota Malintang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Kamis (2/3) sekitar pukul 14. 30 WIB. Mengakibatkan enam rumah tertimbun material longsor, longsor juga menimbun badan jalan yang menghubungkan Koto Malintang menuju Tanjung Sani sebanyak empat titik.
Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/01/p4x4ln284-longsor-timbun-rumah-warga-di-agam
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
Terjadi longsor di Dusun Pluwang, Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jum’at (2/3), yang mengakibatkan tebing 15 Meter Longsor, dan menutup Jalur Alternatif Ambarawa-Bandungan. Material longsor juga menimpa rumah seorang warga.
Sumber: http://www.inikata.com/tebing-15-meter-longsor-tutup-jalur-alternatif-ambarawa-bandungan/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera BaratLongsor yang terjadi di Jalan Raya Bukittinggi - Medan km 11 Jorong Batang Palupuh Nagari Koto Rantang Kec. Palupuh Kab. Agam, Sumatera Barat, Kamis (1/3/2018) pukul 20.00 WIB, mengakibatkan jalan dengan lebar 2 meter dan panjang 20 meter amblas.
Sumber: https://www.covesia.com/archipelago/baca/49541/longsor-akibatkan-jalan-amblas-akses-bukittinggi--medan-buka-tutup
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

4. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
Longsor trjadi di Puncak Makawembeng, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa , Jumat (2/3/). Menyebabkan tebing dengan tinggi 4 meter dan panjang 28-30 meter dan menutup badan jalan raya yang merupakan jalan utama yang dilalui warga Minahasa yang hendak menuju Kelurahan Marawas.
Sumber: http://manado.tribunnews.com/2018/03/02/longsor-terjadi-di-puncak-makawembeng-jalan-menuju-marawas-tertutup
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

5. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Longsor terjadi di Desa Pamupukan, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (2/3/2018) pagi. Akibat tebing longsor, satu rumah hancur rata dengan tanah.
Sumber: https://video.sindonews.com/play/37293/tanah-longsor-di-kuningan-hancurkan-1-rumah
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
6. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
Longsor terjadi di longsor Kampung Puncak RT 01/RW 13 Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, pada Kamis (1/3) malam pukul 19.30 WIB. Longsor pada tembok penahan tebing setinggi 5 meter dan lebar 10 meter dan menimpa badan jalan.
Sumber: http://www.galamedianews.com/bandung-raya/181146/muspika-ibun-dan-warga-bersihkan-material-longsor-di-kampung-puncak.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

7. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara
Longsor terjadi di ruas jalan Desa Pangu dan Desa Wongkay, Kecamatan Ratahan Timur, Kab. Minahasa Tenggara, pada hari Jumat (2/3) sekitar jam 12.00 wita sampai pukul 17.30 wita. Mengakibatkan dua titik di ruas jalan dari Pangu ke Wongkay tidak dapat dilalui karena tertutup tanah dan lumpur. 
Sumber: http://manado.tribunnews.com/2018/03/02/akses-jalan-ke-desa-wongkay-tertutup-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

8. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa BaratGerakan tanah / tanah longsor pada  pada Jumat (2/3/2018) :• jalur lalu lintas dua desa di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta Tanah di jalan utama yang menghubungkan Desa Kertamanah dengan Ciririp, mulai tergerus, sehingga jalan seeaktu-waktu bisa ambles. Tanah di bawah jalan itu sudah mulai tergerus selebar 1 meter dan panjang 10 meter. Hujan yang mengguyur wilayah itu dalam beberapa hari terakhir membuat tanah longsor.• tebing setinggi 10 meter pun ambrol dan menutup sebagian jalan di Kampung Tegal Buleud, Desa Ciririp. Peristiwa ini pun sempat mengganggu lalu lintas di desa tersebut, namun warga, segera membersihkan material longsor dari jalan.• di Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru. Tebing setinggi 10 meter juga ambrol dan memutus jalur utama yang menghubungkan Kampung Pamalayan dengan Kampung Cikandang.• Hujan lebat disertai angin membuat tebing kehutanan di Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, ambrol, Kamis (1/3/2018) sore. Material longsoran berupa lumpur dan pepohonan tumbang menutupi jalan desa menghubungkan Kp Cikandang RT 002 RW 001 dan Kp Pamalayan RT.007 RW 004. Lalulintas sempat terputus.
Sumber  : http://poskotanews.com/2018/03/02/longsor-sempat-putuskan-jalan-desa/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

9.Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah
Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi Kabupaten Rembang, Jawa Tengah sepekan terakhir, mengakibatkan tebing sungai di Desa Sanetan Kecamatan Sluke, Rembang longsor, Kamis (1/3/2018) dini hari. Longsoran sepanjang 20 meter dengan kedalaman 7 meter sangat membahayakan keselamatan warga. Akibat longsoran tersebut, tiga rumah warga nyaris ambrol. Penghuninya telah diperintahkan untuk mengosongkan rumah. Penangganan darurat saat di  buat tanggul dengan bolder (besi cor) yang diberi tanah urung. Sedangkan penanganan secara permanen akan dilakukan pemerintah secepatnya. 
Sumber :  https://www.cakrawala.co/2018/03/01/tanggul-jebol-tiga-rumah-di-rembang-terancam-longsor/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, vegetasi yang kurang, tebing yang terjal dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan di sekitar daerah perkebunan.
• Masarakat yang beraktivitas di daerah perkebunan agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan hujan yang deras.
• Melaporkan kepada pemerintah setempat dan melakukan pengungsian sementara apabila terjadi retakan tanah dan bunyi gemuruh longsoran.
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat turun hujan karena dapat mengakibatkan terjadinya longsor susulan.
• Melandaikan lereng, menata drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah-kaidah geoteknik.
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.
• Mengatur drainase air dan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah-kaidah geotek.
• Pemilik rumah yang terkena longsoran agar mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan untuk menghindari gerakan tanah susulan.
• Bagi yang bermukim dekat dengan tebing tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaan terutuama terjadi saat hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah kaidah geologi tehnik.
• Melakukan pembangunan kembali terhadap fasilitas layanan umum agar dapat dipergunakan kembali.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
• Segera menutup rekahan dengan tanah liat atau material yang kedap air agar air tidak masuk kedalam rekahan tersebut. 
• Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan. 
• Penataaan aliran permukaan disekitar lokasi bencana secara menyeluruh.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.



Bandung, 03 Maret 2018
PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM
Kasbani

Berita Terkini